The President is Human

Philip menyalakan rekaman video begitu Rose menutup pintu ruang editing. Charlie Clark, Juru Bicara Kepresidenan yang baru dilantik, nampak di dalam layar. Dia cukup dekat dengan kumpulan kecil orang-orang di ruangan itu; sebelumnya, dia telah bekerja di setasiun berita milik mereka selama tiga tahun sebelum menduduki jabatannya yang sekarang pada November 2016. Charlie nampak elegan dan necis dengan pakaian mahal yang melekat di tubuhnya, cara bicaranya luwes, namun, gerak-gerik tangannya tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Dia terus menyisir rambut dengan jemari, meluruskan dasi, dan menyesap air.

“ … dan, tidak seperti seorang Presiden, saya bisa mengatakan apapun yang saya inginkan,” kelakar itu mengundang tawa para wartawan yang tengah meliput, suasana nampak sedemikian cair. “Tapi memang benar, tujuan utama dari seorang Juru Bicara bukanlah untuk menyampaikan apa yang dirasakan Presiden secara langsung – kita tidak dalam situasi berbahaya atas ketidaksengajaan yang terjadi; yang mungkin bisa membahayakan dunia – tujuannya adalah untuk menyampaikan perasaan Presiden, perasaan yang beliau pilih dan punyai, dalam kata-kata yang sempurna dan tepat. 

“Katakanlah, Bapak Presiden merasa geram atas sebuah pelanggaran HAM. Bapak Presiden juga manusia, wajar jika beliau merasa marah. Bahkan, beliau begitu marah sehingga tak mampu lagi meredamnya. Merupakan tugas saya untuk menyampaikan pernyataan yang merangkum kemurkaan beliau – yang merupakan bentuk pengejawantahan sikap dan suara beliau atas ketidakadilan – sehingga beliau bisa menyampaikannya pada seluruh dunia.”

Philip menghentikan rekaman itu dan berbicara. “Saat Dinas Rahasia mengantar kita pada pertemuan kecil ini, salah satu dari mereka, dengan diam-diam menjejalkan secarik kertas pada tanganku. Itu merupakan kode yang kerap Charlie dan aku gunakan untuk berkorespondensi di Afghanistan. Artinya adalah bahwa frasa yang diucapkan saat dia menyentuh dasi, berarti salah dan sebaliknya.”

Philip memutar kembali bagian-bagian yang ia maksudkan:

“Saya bisa mengatakan apapun yang saya inginkan.” 

“Kita tidak dalam situasi berbahaya,”

“Bapak Presiden juga manusia.”


Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top