Christmas Eve

Ada dua orang gadis yang bernama Emma dan Veronica, yang tinggal di lingkungan yang sama. Saat itu malam Natal dan orangtua Emma sudah pergi dari rumah untuk merayakan liburan mereka hingga akhir pekan. Dia merasa sedikit gugup ditingalkan sendiri di rumah semalaman, jadi dia mengundang temannya untuk bersama dengannya malam itu.

Kedua gadis itu kemudian berencana untuk begadang. Seharian mereka bertukaran pakaian dan melakukan hal yang gadis lain biasa lakukan seperti menata rambut atau kuku mereka satu sama lain. Sore harinya, mereka memesan pizza dan menonton film horor. Setelah itu, mereka ke gereja bersama untuk merayakan malam natal setelah mengunci pintu rumah dan bersiap-siap.

Sepulangnya dari gereja, keduanya kemudian menghabiskan waktu yang panjang bercakap-cakap dan bergosip tentang anak-anak di sekolah mereka. Mereka lalu tidak menyadari bahwa waktu sudah berlalu hingga lewat tengah malam. Kedua gadis itu juga sudah lelah jadi mereka memutuskan saat itu sudah waktunya untuk tidur. Emma naik ke ranjangnya, sementara Veronica tidur di lantai beralaskan matras.

Kamar itu sangat sunyi dan Emma perlahan-lahan larut dalam tidurnya. Tapi kemudian, Veronica terduduk dan mulai menggoyang-goyangkan badan sahabatnya itu.

“Ayolah, kita turun dan cari es krim.” katanya dengan keras.

Emma sangat kantuk dan menggumam, “Aku tidak lapar.”

“Tapi, saya lapar.” balas Veronica. “Ayolah, kita turun.”

Emma membalikkan badannya. “Tidak ada es krim di kulkas.” Dia mengantuk seraya mengatakan, “Kita sudah makan semua.”

“Jadi … ayo ke toko dan membelinya beberapa.” kata Veronica.

“Aku tidak mau lagi,” timpal sahabatnya itu. “pergilah sendiri.”

“Tidak! Aku tidak berani berjalan seorang diri di malam-malam begini.” Veronica memohon, “Ayolah, kita pergi …”

Emma masih terbaring di ranjangnya dan berusaha mengacuhkannya.

“Emma, kumohon!” Veronica mulai menangis. “Ayo! Aku benar-benar ingin es krim …” Airmata mengalir turun di wajahnya.

Emma benar-benar terganggu. Dia sudah bosan dan capek mendengar rengekan sahabatnya itu.
“Ya Tuhan, Veronica! OK! OK!” sahutnya. “Jika itu benar-benar penting bagimu, baiklah … aku akan pergi bersamamu ke toko. Jadi tenanglah!”

Kedua gadis itu berpakaian dengan cepat dan mengenakan jaket mereka. Segera setelah mereka meninggalkan rumah, entah kenapa, Veronica langsung menarik tangan sahabatnya dan mulai menyeretnya ke arah yang lain.

“Ini bukan jalan menuju ke toko.” teriak Emma.

“Sssssshhhhhh!” desis Veronica. “Kita akan pergi ke kantor polisi. Tadi aku melihat cermin, dan saya melihat seorang pria dengan kampak, sedang bersembunyi di bawah ranjangmu!”



Tamat

1 comments:

 
Top