Chat

Sesuai janji ku pada diri ku, aku, di sini, akan menceritakan kisah hidup ku. Dan waktu demi waktu, aku selalu menyesali semua ke-bodahan ku ini.

Sebelum nya, perkenalkan, namaku Claire. Dulu nya, aku adalah wanita normal ber-umur 23 tahun. Hari-hari ku dihiasi pekerjaan ku, aku seorang Novelis.

Oke, kita mulai.

5 bulan yg lalu, saat aku sedang asyik berkutat dengan laptop kesayangan ku, sebuah pesan chat di Facebook menyapa ku.

'Hai' tulisnya.

Aku melihat nama nya. Nick. Hanya Nick dan seingat ku dia meminta meng-add ku 3 hari yg lalu. Saat itu aku sedang malas, aku hanya menjawab singkat.

'Ya'

Aku berniat melanjutkan alur novel terbaru ku, tapi semua nya kandas sudah ketika bunyi Ding!, mengganggu konsentrasi ku.

'Boleh kita berkenalan?'

Ah, sudahlah pria pengharap. Aku sudah dilamar kekasih ku kemarin, Sam.

'Maaf, aku sibuk'. Tulisku malas.

Ding!

'Oh ya?'

'Iya,tuan'

'Kata nya kau sibuk, kenapa membalasku?'

Aku menggerutu. Dia memutar fakta dan menjadikan ku sebagai pelaku nya. Jenius.

'Sudahlah, jangan ganggu aku'

Aku benar-benar kesal oleh orang ini. Dia mengusik privasi ku.

'Bagaimana jika aku menolak?' Balasnya lagi. Shit, benar-benar.

'Apa mau mu?'

'Sederhana. Aku ingin berkenalan'

Aku tersenyum sinis.

'Nama ku Claire. Puas?'

'Salam kenal, Claire. Aku Nick'

Dan aku tak tanya.

'Oh ya?'. Aku membalasnya dengan ber-ribu rasa suntuk untuk percakapan mual ini.

'Ya. Aku melihat foto mu, kau cantik sekali'

Cih. 1 ucapan manis takkan membuatku ber-bunga bunga, tuan sok akrab.

'Ya ya,terimakasih. Bisakah kita mengakhiri percakapan ini? Aku mau tidur'

'Oke. Sampai bertemu besok!'

Aku menge-klik kalimat keluar. Cih, memangnya siapa yg ingin melanjutkan?.

***

Esoknya, aku membuka aplikasi Facebook. Aku ingin menge-chat Laura, sahabatku. Memberi tahu pada nya aku akan kerumahnya hari ini.

Ding!

'Pagi'

Mataku memutar malas. Dia lagi. Tolonglah, aku sedang tak ingin marah-marah hari ini.

Aku membiarkannya, sayangnya, itu ide buruk.

'Apa kabarmu?'
'Apa mimpi mu indah semalam?'
'Hay, respon lah!'

Sialan lelaki ini. Apa tak cukup pengabaian untukmu? Aku benci suara Ding! Itu.

'Apa mau mu?'. Aku membalasnya. Dia membalas dengan cepat.

'Claire, apa kau tak mengingat ku?'

Aku kaget membaca nya. Apa maksud nya? Sayangnya tak ada photo yg bisa mendeskripsikan siapa dia.

'Aku Nick'

Bodoh. Aku juga tahu.

'Maksudku, apa hubungan nya kau dan aku?'

'Aku...teman kuliah mu dulu'

Aku membelalak kaget. Ya, aku ingat sekarang. Nick, lelaki kutu-buku berjuta malu yg memakai pakaian culun dan berkacamata tebal itu. Nick yg pernah menyatakan rasa cinta nya padaku, dan ia ditertawakan.

'Maksudmu,kau Nick yg itu?'

'Ya. Aku Nick si culun. Nick yg sangat mencintai mu'

Aku begitu kaget. Padahal, aku sudah menolak nya mentah-mentah dan mencaci maki nya. Apa dia tak sakit hati?.

'Aku merindukan mu, Nicolle'

Bitch. Dia memanggilku Nicolle. Ya, walau nama ku Claire Nicolle, aku benci dipanggil Nicolle. Karna dulu nya aku pernah diejek sehati dengan Nick. Nick dan Nicholle.

'Kau bukan siapa-siapa ku'. Balasku ketus.

'Tapi, aku masih mencintai mu'

'Terserah lah!'. Aku benar-benar marah. Aku sangat benci seseorang yg pemaksa dan tidak menuruti ku.

'Tapi Claire...'

'Persetan! Jangan ganggu aku!'

Lama dia membalas. Aku pun berusaha meredakan amarah ku. Aku akan bertemu Laura nanti.

'Kau akan menyesal, Claire'

Aku kaget. Menyesal? Maksudnya?

'Apa yg kau maksud, hah?!'

Dan dia tak membalas. Off line, meninggalkan berjuta tanya dalam benak ku.

Aku tak peduli. Kuambil sepatu boots ku, dan buru-buru memakai nya.

"Kau mau kemana, Claire?"

Yg bertanya itu ibu ku. Ya, aku masih tinggal bersama keluarga ku.

"Menemui Laura" jawab ku singkat. Dan keluar menuju rumah sahabatku itu.

***

Aku sudah menceritakan soal Nick pada Laura. Laura memberi saran agar aku mem-blokir Facebook nya.

Ya. Aku akan mem-blokir nya. Aku berjalan menuju rumahku. Aku sudah 2 jam di rumah Laura.

Masih jam 10 pagi. Aku berniat mengajak Cynthia, adikku, ke Lotte World. Ini hari minggu.

Aku membuka pintu pagar halaman, membuka sepatu ku, dan membuka pintu.

"Aku pulang" kata ku sembari memasuki rumah.

Hening.

Aku langsung ke kamar adik ku. Aku membuka pintu kamar.

"Cyn?"

Aku berteriak. Tak ada Cynthia. Kamar nya berantakan. Dan, oh, ada darah yg terlukis di dinding kamar nya.

Aku berlari menuju kamar orang tua ku, anehnya, kamarnya biasa saja, namun, mereka tak ada.

"Ibu?! Ayah?!"

Aku berjalan dengan gemetar menuju kamar ku di lantai atas. Ruang tengah sudah kulalui, tapi tak ada keberadaan mereka.

"Ibu?!"

Aku membuka pintu kamar ku.

Kleek...

"I-"

Aku menjerit. Kamar ku sangat berantakan, dan yg membuat ku shock, ada 3 tubuh bermandikan darah. Di ranjang ku.

Mereka keluarga ku.

Aku terpaku di liang pintu. Gemetaran. Air mata ku mengalir deras.

"Kau datang?"

Aku tercengang. Suara berat, dan serasa sangat dekat denganku.

Aku menengok ke belakang.

Seorang lelaki tinggi, dengan baju, celana panjang, dan jaket serba hitam. Berkacamata, tapi tak kupungkiri dia tampan.

"Ka-"

Dia memotong. "Aku Nick"

Ni-Nick?! Mustahil! Nick dulu yg kukenal sangat culun dan gagap. Tapi,dia...

"Apa yg kau buat pada keluarga ku?!" Aku berteriak kencang. Dengan air mata yg sudah membentuk anak sungai.

Dia tersenyum tipis. "Aku hanya bermain-main"

"Kau gila!" Aku benar benar kacau. Marah, sedih, dan benci! Ya,tentu saja. Aku ingin membunuhnya!.

"Aku hanya menepati janji ku,sayang"

Dia menunduk. Dengan ibu jari nya sendiri, mengusap air mata ku.

"Kau tidak cantik jika menangis" lirih nya dengan senyum. Aku mematung.

"Kenapa kau membunuh keluarga ku?!"

Aku benar-benar marah pada nya. Dia tersenyum.

"Karna, entahlah. Aku tak mau ada pengganggu diantara kita"

Dia mengeluarkan selembar foto dari saku jaket nya.

"Kau mengenalnya?"

Mata ku terbelalak. Sam!.

"Aku berencana membunuh nya" katanya dengan senyum licik. Aku terlonjak.

"Apa?!"

"Well, karna aku begitu mencintai mu" dia memegang dagu ku. Aku ingin meludahi wajah nya.

"Jadi, sayang. Ayo kita buat kesepakatan. Menikah dengan ku, dan orang ini hidup. Tidak menikah? Dia Rest In Peace"

Apa?! Pilihan gila! Aku benar-benar ingin membunuh nya!.

"Aku bisa berbuat apapun yg ku mau" katanya. Dengan nada dingin. Ia mendekatkan wajah nya kearah ku. Melihat ku dengan wajah devil nya.

"Jadi, kau pilih mana, nona manis?"

Aku menangis. Sesenggukan. Aku membencinya! Demi apapun aku membenci mu,Nick!.

"Jangan...bunuh...Sam" aku terbata-bata. Aku mencintai Sam. Dan aku ingin dia hidup.

Walau aku yg harus berkorban.

Nick tersenyum puas. "Oke, sayang".

Dengan tanpa dosa ia mengecup kening ku. Aku menutup mata ku. Sungguh, jika aku memegang pisau sekarang, aku ingin membelah lidah nya.

"Aku tak main-main"

***

Itulah kisah ter-kelam dalam hidupku. Dan sekarang, tolong. Siapa pun yg bisa menolong ku, tolong aku! Bebaskan aku dari psikopat gila ini!...

***

"Sayang?"

Ya. Aku langsung mematung. Menyadari besi tajam ini menempel di pipi kanan ku.

Jemari ku yg tengah mengetik ini langsung diam. Ya, Nick ada dibelakang ku. Memegang pisau ini.

"I-iya..."

"Kau sedang apa, eum?"

Aku merasa dia memeluk ku dari belakang. Badan ku gemetar.

"No-novel..." Jawab ku terbata bata.

"Tapi, tak perlu ada bumbu kisah kita, bukan?"

Shit. Dia menyadari nya.

Ia langsung menggantikan jemari ku dan meng-shift semua tulisan ku. Dan klik,dihapus.

"Jangan seperti itu lagi" dia menatapku. Dengan mata tajam nya. Mengancamku.

Aku hanya mengangguk lemah.

"Oke, aku lapar. Ayo kita makan di luar"

Dia melempar pisau itu sembarang arah. Meninggalkan ku sendiri di ruangan gelap ini.

Ya. Sampai kapan pun, takkan ada yg menolongku.


Tamat

1 comments:

 
Top