We Could Do Nothing but Lie Down


Aku ingat ketika makhluk-makhluk luar angkasa mirip laba-laba ini tiba-tiba keluar dari lubang-lubang di bulan dan membanjiri permukaannya. Video yang diambil NASA menunjukkan rekaman makhluk-makhluk ini, yang bergerak dan merayap di permukaan bulan sejauh mata memandang. Aku nyaris gila ketika melihat rekaman itu muncul di TV, apalagi makhluk-makhluk ini nampaknya berukuran sebesar mobil. 

Aku ingat ketika presiden pertama kali mengumumkan secara resmi bahwa, ya, ada makhluk luar angkasa lain yang hidup di tata surya selain kita. Ada orang-orang yang ingin agar bulan dirudal saja. Ada yang ingin menjalin perdamaian dengan para alien. Ada juga yang malah menyembah makhluk-makhluk ini seperti dewa. Aku sendiri, setiap kali aku melihat bulan di langit dengan permukaannya yang berubah menjadi kemerahan dan dibanjiri para alien berbentuk laba-laba, aku hanya bisa gemetaran.

Aku ingat ketika CNN menyiarkan foto makhluk-makhluk ini sedang membangun pesawat ruang angkasa berukuran sangat besar. Mereka jelas pintar, dan ini membuatku panik. Astaga, mereka akan mendatangi kami!

Aku ingat hari ketika mereka mengirimi kami pesan untuk pertama kalinya. Suara mereka terdengar kasar dan berat, diiringi bunyi "klik-klik-klik." Para ahli linguistik top dari seluruh dunia pun dipanggil untuk menerjemahkannya.

Aku ingat ketika, 2 minggu kemudian, permukaan bulan yang berwarna kemerahan perlahan-lahan berubah kembali menjadi putih pucat yang sudah kami kenal. Makhluk-makhluk itu rupanya telah menaiki pesawat ruang angkasa mereka. Seluruh dunia waspada; semua negara mempersiapkan angkatan bersenjata mereka untuk menghadapi pertempuran. Makhluk-makhluk itu kemudian pergi meninggalkan bulan dengan pesawat mereka, akan tetapi, mereka ternyata pergi ke arah yang berlawanan dari bumi.

Hari berikutnya, para ahli linguistik akhirnya berhasil memecahkan arti pesan dari para alien itu. Isinya:

"Penduduk bumi, jika kalian masih sayang nyawa, larilah."

Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top