Another World

"Ayo, Tim, ini pasti menyenangkan!"
"Tidak! Aku tak mau membuang waktu ku terjebak disana!"
"Oh, dasar cengeng kau. Pantas saja teman mu hanya kami ber-dua"

Tim benar-benar ketakutan sekarang. Ia berusaha melepaskan tubuhnya dengan bergeliat dari cengkraman Marco dan Steve, yg notabene nya adalah teman nya.

"Apa kalian tak mendengar ucapan Pak Frank?" Tim berteriak. "Lorong ini adalah penghubung dua dunia! Kalian gila!"

"Peduli, ku?" Marco berucap malas. "Dengar, Timmie cengeng. Di sekolah ini tak ada yg menyukai mu. Aku dan Steve hanya berpura-pura menemani mu agar kami bisa memanfaatkan uang mu itu"

Tim tercekat. Jadi, selama ini 2 orang yg sudah ia anggap teman, ternyata musuh yg harus ia hindari.

""Tolong lepas kan aku" ucap Tim memelas. "Aku akan memberi mu uang, mainan, dan makanan yg sangat banyak. Tolong, tolong lah".

Mendengar kata uang, mainan, dan makanan, manik Steve ber-binar. Ia hendak melepaskan Tim,. Namun, secepat kilat Marco melarang nya.

"Jangan lepaskan, Steve!"

Steve terdiam. Ah, apa daya. Ia harus menuruti Marco.

"Dengar, Timmie. Sekarang aku tak ingin uang, makanan, atau mainan yg kau bilang itu. Aku hanya ingin kepuasan. Mengerti?".

"Apa maksudmu?!"

"Aku ingin kau hilang dari hidup semua orang. Aku bosan melihat mu menjadi sampah di kelas kami. Mengerti?. Steve, lempar dia!"

"Tidak! Kalian gila! Tidak!!"

....

Steve melempar mantan temannya itu ke arah lorong gelap di samping sekolah mereka. Tim terlempar beberapa meter, ia ambruk.

"Beres." ucap Marco puas. "Ayo kita pulang, Steve".

"Ya. Ayo".

Mereka meninggalkan Tim. Tim, perlahan bangkit, ia sadar, buru-buru ia berlari. Berlari. Lari.

Bruk!.

Sayang, dia terlambat.

Dinding nya kembali utuh, seperti semula.


Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top