Confession

Aku menatap monitor EEG disamping ranjang Waldo. Garis garis itu bisa berubah datar kapan saja. Kudekap tangannya dalam genggamanku--dingin dan pucat. Ia terbaring lemah, membisu dengan pandangan hampa. Tiap kali kukunjungi Waldo, aku tahu, aku hanya akan menyaksikan raganya yang semakin kurus dan tak bertenaga lagi. 

Pria tua itu hanya akan melirik keatap atap rumah sakit. Ia berakhir dirumah sakit disebabkan vonis dokter 6 bulan lalu, menyatakan ada tumor ganas di hati bagian kirinya, hidupnya mungkin sudah diujung paruh. Pantas saja, ia sering kesusahan mengambil nafas dan sering mendadak bengek. Nasib pak Waldo sungguh malang.

Kurasa Waldo Fritsweiler di jabatan hakimnya sering merampas hak kalangan rakyat bawah, kau tahulah, suap menyuap, pemerasan. Pak Waldo seorang korup. Sudah tak asing. Aku sering menjenguknya, dan ketika aku datang ia selalu memekik dalam setengah kesadarannya. Ia meracau dengan ketakutan, tentang kejahatan yang ia lalukan. Tentang kesalahan kesalahannya, tapi sering kali ia menyangkalnya kembali. Kadang kadang seperti ini,

"Pria itu, a-aku hanya mengambil 5,000 dollar darinya… i-itu hanya sedikit…"

"Tidak tidak, para pejabat tak bersalah. Mereka tak melakukannya… Ini 
pencemaran nama baik…"

"Apa salahku bersenang senang sedikit dengan pelacur itu… lagipula ia juga tak punya pilihan lagi, kecuali kalau ia mau masuk penjara... itu bukan salahku…"

"Ah, jangan! Aku-aku tak bersalah! Anak gadis itu saja yang bodoh!"

Ia sering berteriak seperti itu. Seolah ia ingin mengakui kesalahannya. Akhir akhir ini ketika aku duduk di sebelah kasurnya, ia semakin sering menjerit jerit tak karuan. Aku menatapnya dan menggeleng miris, keadaannya mungkin semakin parah dan parah. Suster datang ke ruangannya untuk menenangkannya, kemudian pergi lagi.

Pagi ini, aku kembali ke ruangannya. Ia dalam keadaan setengah sadar, menatap ke langit langit ruangan. Aku melangkah dengan pelan, melihat kerutan kulitnya dan jambang kumisnya yang sudah lama tak dipangkas. Ia tampak menderita.

Kutatap jam yang menggantung. 09:22.

Aku menutup matanya dengan tanganku. Ku hela nafas kasar.

"Waldo Fritsweiler."

"Waktumu telah habis. Sekarang ikut denganku ke neraka."


Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top