War Stories

Profesor Gray merayakan Hari Kemenangan. Setiap tahun dia menyampaikan pidato tentang perang maha dahsyat terakhir dalam sejarah umat manusia, dan sekarang, dirinya –yang merupakan veteran terakhir yang masih hidup- akan disiarkan langsung ke seluruh penjuru dunia. Para hadirin langsung mengalihkan perhatian padanya begitu orang tua itu naik podium, bersiap untuk mengucapkan kata-kata yang telah disiapkan.

“Pada akhir 2099 para ilmuwan Bumi menemukan sebuah anomali pada batas luar sistem tata surya. Dalam seminggu, invasi dari kekaisaran Mok’tal memblokade planet.” Bisikan-bisikan lirih mulai keluar dari para hadirin. “Awal perang dimulai dengan penyerangan membabi buta pada kota-kota dengan jumlah penduduk terpadat. Pemerintahan yang masih aktif di Bumi membentuk pasukan koalisi dengan segera.” Bisikan-bisikan sebelumnya di aula, terdengar makin keras kini. 

“Pasukan koalisi berhadapan dengan bangsa Mok’tal tidak lama sesudahnya. Dalam perang yang berlangsung kurang lebih duapuluh menit itu, pasukan koalisi luluh lantak … hancur.” Mata Gray mulai berkaca-kaca saat kenangan-kenangan masa itu membanjir dalam ingatannya; saat itu begitu banyak rekannya yang gugur. “Setelahnya, bangsa Mok’tal mulai menapakkan kaki di Bumi.” Dengan kata-kata itu, suasana Aula menjadi begitu tegang, semua yang ada seperti dibakar api semangat.

Air mata yang Gray tahan, jebol, membanjiri pipinya, “pasukan Mok’tal akhirnya menguasai seluruh planet …me-mereka … m-me-membagi umat manusia yang masih tersisa menjadi dua grup.” Gray benar-benar berjuang untuk mengucapkan kata-kata selanjutnya dengan susah payah, “Grup untuk dijadikan ma-makanan … dan grup untuk d-dipermainkan ….” Dengan itu, aula menjadi gegap gempita oleh tawa kemenangan dan pekik riang. Selanjutnya, Gray masih harus menceritakan kengerian atas segala perlakuan dan pembantaian bangsa Mok’tal selama beberapa jam lagi. Saat penjaga akhirnya menggelandangnya lagi menuju sel, Gray merasa tak kuat lagi menanggung segalanya.

Sejak 50 tahun terakhir, Gray memahami bahwa kekejaman paling brutal dari penakluknya bukanlah pada kematian, penykisaan atau pembantaian, melainkan bahwa tahun demi tahun, mereka membuatnya mengingat hal tersebut.


Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top