The Frozen Lady on my Bed


Ini semua benar-benar terjadi kepadaku, dan aku yakin, ini bukanlah sebuah terror dalam ingatan yang selalu menghantuiku. Namun, tetap saja tidak ada penjelasan rasional yang mampu menjawab semua pertanyaan ini sampai hari ini.

Aku juga tidak mengerti, apakah ini terlihat aneh tak kala ketika mimpi buruk itu kembali muncul dan mengingatkanmu lagi pada peristiwa yang membuatmu seolah-olah merasa paranoid terus menerus. Semoga tidak.

Semua di mulai ketika aku masih kecil. Umumnya, anak kecil takut dengan sesuatu yang gelap dan menakutkan, bukan berarti aku percaya dengan hantu atau apapun orang menyebutnya. Hanya saja, itu tidak bisa diterima terutama bila kau adalah anak-anak yang masih memahami arti Rasionalitas. Namun tetap saja, aku takut dengan kegelapan.

Usiaku saat itu 8 tahun, dan setiap malam adalah perjuangan yang berat untukku agar bisa tidur sendirian, Tanpa cahaya, di dalam kamar yang gelap.. 

Kamarku sendiri menghadap langsung kearah pintu, jadi saat aku merebahkan tubuhku, terkadang, aku menatap pintu kamarku. Aku memiliki pendengaran yang peka, sehingga suara kecil pun sudah bisa membuatku tersentak dan terbangun dari tidurku.

Aku ingat saat itu, aku terbangun dan langsung terduduk tegak setelah mendengar sebuah suara kecil, kakiku masih di dalam selimut, aku mulai menggosok mataku agar aku bisa melihat semuanya dengan jelas, setelah ku kira semuanya sudah jelas, aku melihat ibuku.

Ibuku tengah duduk di depanku, di ujung ranjangku. Aku yakin itu adalah ibuku, rambutnya keriting panjang, dengan piyama yang biasa ia gunakan untuk tidur, sementara aku bisa melihat garis kaca mata di telinganya. Seperti yang biasa ibuku lakukan saat akan membangunkanku, akan tetapi dia hanya duduk disana, kulitnya terlihat pucat dan dia hanya duduk diam melihat kearah tembok. Membelakangiku tepatnya.

Aku masih bertanya-tanya apa yang dia lakukan disana. Aku menggoyang-goyangkan selimut berharap agar dia berbalik melihatku. Namun dia hanya diam, aku mencoba memanggilnya dengan suara berbisik, dia tetap saja diam. Caranya duduk juga terlihat aneh di depanku, dia seperti melamun namun aku yakin ada yang salah denganya.

“Mom. Mom” kataku. “kau sedang apa?” aku berusaha memanggilnya, namun dia mengabaikanku.

“Mom” karena penasaran, aku menyibak selimutku kemudian merangkak menuju kearahnya, aku melihat dia masih diam disana. Ku tepuk bahunya dan bertanya kepadanya. “kau sedang apa?”

Begitu aku menyentuhnya, tiba-tiba kepalanya berputar 180 derajat ke arahku, matanya sangat besar dan hitam, mulutnya mengangah kearahku, dia berteriak kemudian menarik kakiku. Aku menarik selimutku, berusaha melindungi diriku, tarikanya semakin kuat, dan suaranya sangat mengerikan. 

Tiba-tiba, terdengar suara hentakan kaki menaiki anak tangga, kemudian lampu menyala. Aku tampak shock melihat kesana. Itu adalah ibuku, menatapku nanar dengan wajah panik, dan makhluk yang menarikku sudah lenyap entah kemana.

Suaraku masih terengah-engah, dia bertanya apa yang terjadi, dan aku tidak mengatakan apa-apa selain mimpi buruk. Aku mencoba kembali tidur namun itu akan menghantuiku selamanya.

Beberapa tahun berikutnya, aku melihat ibuku dan adiknya sedang bernostalgia melihat album foto lama, dan aku memutuskan untuk ikut bergabung. Ibuku bercerita bila dulu sebenarnya mereka tidak tinggal di rumah ini, melainkan tinggal di rumah sebelah, yang sekarang di tempati oleh adiknya, sebelumnya ini adalah rumah milik seorang wanita dan anaknya, namun sayang, sang ibu meninggal duluan karena kanker, sementara anaknya juga meninggal di usia yang muda, sekitar usia 20 tahunan. 

Ibu menunjukkan foto gadis yang ber usia 20 tahunan itu, namanya adalah Rachel, dan tiba-tiba ingatan itu kembali kepadaku, membuatku seketika merinding memandangnya. Rambut keriting dengan kulit putih pucat, hanya saja dia tidak mengenakan piayama, hanya pakaian casual. Namun aku yakin, dengan wajahnya, dia adalah sosok itu. 

Sampai sekarang aku masih memikirkan apakah yang aku lihat saat itu benar-benar adalah Rachel atau arwahnya. Tapi, aku yakin, siapapun itu, aku bisa merasakan nafasnya, kehadiranya, sentuhanya, dan itu bukan imajinasi. Itu bukan imajinasi.


Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top