Friend's Friend

Arnod menggerutu ketika kostum mumi itu dia balutkan ketubuhnya. Temanku itu menatap kecut baju yang seperti gulungan tisu toilet itu ditambah ikat pinggang dan aksesoris kepala. "Kostum ini membuatku gatal. Ugh." gerutunya seperti kerbau.

Wendy menghardiknya sarkastik, " Kalau begitu kau tidak perlu ikut halloween saja!" Ia membetulkan kostum tengkorak anehnya itu.

Kami bertiga akhirnya melangkah dari runah ke rumah. Ada yang memasang lampu warna dan hiasan kelelawar yang disihir jadi penghias langit rumah. Kurasa rumah di disebelah timur dari sini lebih mencolok. Ah, nuansa halloweennya benar benar meresap.

"Ayo." Ajakku pada Arnod dan Wendy. Kami berjalan beriringan.

"Tunggu! Roger tungguu!" Err, aku mengenali vokal yang memanggil namaku itu. Teman sekolahku.

Gadis itu berpacu mendapatkan kami. Nafasnya diantara engahan engahannya itu tidak teratur. Heh, kalau saja sapu ditangannya bisa benar benar berfungsi. Aku melirik gadis berambut merah ombre ini. Khususnya kostum penyihirnya. Tidak cocok.

"Heh, kau lebih mirip penyapu jalan daripada seorang penyihir, Ly." Gurauku terkekeh.

"Apa kau bilang?" Nadanya naik.

"Penyapu jalanan..." Kutunjuk Sunly yang tengah bersilang tangan.

"Cih, kejam sekali." Ia mengerucutkan parasnya. "Oh ya, ini temanku, ia ingin ikut merayakan halloween dengan kita." Ia menepuk bahu seorang gadis yang sebaya dengannya.

Sontak kami bertiga melirik 'teman' Sunly. Omong omong aku tidak menyadari keberadaannya tadi. Aku memang terlalu asik memandangi si penyihir artifisial itu.

Ia memakai kostum seperti seorang suster yang dibanjiri darah. Bahkan mukanya juga terlihat berlumuran darah. Make up halloweennya berlebihan menurutku.

"Hai..." sapa Wendy datar.

Arnod mencoba memegang wajah teman Sunly dengan tangannya."Hai..." Sapa Arnod mendekat padanya."Kostummu keren yaa."
Tapi Arnod tak sengaja mendorong kepala si gadis itu.

BRAAKK... sesuatu seperti bola menggelinding kearah kami. Itu bukan bola... tapi kepala teman Sunly yang jatuh.

"AHHHHHH!" Pekik Sunly histeris sembari lari secepat kilat.

"KEPALAAAA! AAHHHHH!" Jerit Arnod. 

Jantungku naik turun dengan sangat kasar ketika aku melihat kepala itu menyemburkan darah kental dari lehernya. Kemudian kepala itu menyeringai dengan lebar kearah kami.

"Hai juga." Jawab sosok itu sambil tersenyum selebar mungkin.


Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top