Nyai gerowok

Pada saat liburan kenaikan kelas, aku pergi mengunjungi rumah nenekku, aku ingat waktu itu adalah hari yang indah, aku bermain sepanjang hari sementara kedua orang tuaku menemani nenek’ku. Usianya sudah sangat tua, sehingga ia tidak banyak beraktifitas dan menjalani hari-harinya di atas kursi roda, meski begitu ia tetap menjadi wanita yang ramah dan baik untukku.

Pada malam hari, aku menemaninya. Ia menceritakan banyak hal kepadaku, mulai dari cerita dongeng hingga cerita –cerita turun temurun, ketika orang tuaku datang dan mengatakan hari sudah larut mereka membawa nenek ke dalam kamar, saat itu lah aku tanpa sengaja menemukan sebuah buku tempat dimana sebelumnya nenekku membawanya. Karena penasaran, aku membuka dan mencoba membacanya.

Buku itu bersampul warna cokelat tua, dan menggunakan aksara kuno, aku kurang bisa memahaminya namun yang ku ingat, aku masih bisa membacanya meski harus terbata-bata. Setiap halaman tertulis rapi menggunakan aksara kuno, 

Aku segera membawanya ke kamar dan mulai mengejanya perlahan-lahan. 

“Engklek—engklek gulu’ne puklek, mlaku—mlaku yen pelan sikile di seret, ngguyu dewe, rambute dowo putih neng selaku ing mburine nyowo”

Aku sama sekali tidak megerti maksud dan tujuanya namun ketika membacanya ada sesuatu yang aneh tepatnya setelah melewati bacaan itu layaknya seperti senandung sebuah lagu. Ku tutup buku itu, ku pikir akan lebih baik bila ku tanyakan pada nenek esok hari, namun.. sesuatu yang aneh terjadi.

Saat aku memejamkan mata, tiba-tiba saja aku selalu terbayang wajah tua yang asing, mengenakan pakaian nenek’ku namun aku tidak pernah mengenali wajahnya. Awalnya ku pikir itu mungkin imajinasi liarku, namun seiring aku mencoba untuk memejamkan mataku, wajah itu akan muncul, menyeringai dengan sangat dan semakin mengerikan.

Tidak hanya itu saja, aku mulai mendengar suara—seperti tawa namun sangat jauh dari tempatku berada, suara itu terus menerus terdengar, pelan namun sangat jelas.

Aku mencoba mengabaikanya, namun semakin aku mengabaikanya, suara tawa dan bayangan wanita tua yang menyeringai itu semakin terbayang jelas di kepalaku.

Malam itu. Aku sama sekali tidak bisa tidur.

Semakin hari aku semakin menjadi-jadi, sejak saat itu aku sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak, nenek yang melihatku bertingkah aneh mencoba bertanya kepadaku, dan aku mulai menceritakan semuanya, ketika aku selesai bercerita, aku ingat wajahnya yang awalnya tenang tiba-tiba menjadi pucat pasi, nenek membentakku, memintaku menunjukkan bukunya lalu menatap tajam diriku.

Dengan suara lantang, ia menyuruhku membuka baju dan betapa terkejutnya aku ketika melihat cakaran hitam melingkar di bahuku, saat itu lah kedua orang tuaku di panggil. Nenek mengatakan sesuatu tentang “Ketemplekkan” aku sama sekali tidak mengerti maksudnya namun sepertinya orang tuaku mengerti dan wajah mereka semua tampak pucat.

Aku melihat ayah dan ibu bergegas mengunci pintu dan jendela, lalu menyuruhku untuk masuk ke dalam kamar bersama nenek. Nenek menyuruhku untuk tidur di atas ranjang sementara beliau terus mengamatiku dan bertanya sesuatu tentang “apa kau sudah melihat wajahnya?? Apa kau mendengar suaranya?”

Aku mengangguk.

Nenek menyuruhku untuk tetap tenang dan merebahkan tubuhku, sementara kedua orang tuaku kembali membawa air dengan taburan bunga di dalamnya. “malam ini aku akan menjaganya—kalian taburi garam di seluruh rumah dan berikan pasak dari bambu kuning” mendengar itu, aku semakin tidak mengerti apa yang terjadi, jadi setelah mengumpulkan keberanian akhirnya aku mencoba untuk bertanya kepada nenek apa yang sedang terjadi. 

Dengan suara berat nenek menatapku sembari berujar “Koen wes di senengi nyai gerowok ndok!! (kamu sudah di sukai nyai gerowok, )” 

Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi namun nenek menjelaskan kepadaku bahwa bila aku mendengar suara halus yang terdengar jauh itu artinya nyai gerowok berada di dekatku namun bila terdengar suara yang keras itu artinya nya gerowok berada jauh dariku. Semalaman aku tidak bisa tidur, dan nenek terus mengawasiku, sampai perlahan.. suara itu terdengar sangat keras, entah apa yang terjadi, semua bulukudukku tiba-tiba berdiri, aku menjelaskan pada nenek tentang suara itu dan ia mulai bersenandung dalam aksara kuno.

Nyanyian yang nenek nyanyikan terdengar sangat mengerikan, perlahan-lahan suara tawa itu semakin kecil dan tipis, nenek bernyanyi semakin keras, sementara di luar angin tiba-tiba bertiup semakin kencang, aku tidak tahu apa yang terjadi namun aku sangat ketakutan dan perlahan mulai menangis.

Sampai akhirnya suara itu menghilang.

Beberapa jam kemudian, orang tuaku datang membawa seorang wanita tua, aku tidak mengenalnya namun tampaknya nenek mengenalnya, mereka terlibat pembicaraan yang tidak ku mengerti namun dari wajahnya ini tampaknya sangat buruk. Wanita tua itu bertanya padaku tentang apa yang ku lakukan lalu aku menceritakan semuanya, dengan bibir gemetar wanita itu menarikku lalu mengguyur seluruh tubuhku dengan air bunga, menghiasi wajah dan tubuhku dengan pakaian penari.

Nenek memanggilku lalu berbisik kepadaku. “malam ini juga kamu harus pergi dari tempat ini.. kamu mengerti!! Ndok”

Wanita tua itu memintaku untuk mengikutinya. Yang ku ingat selanjutnya, aku berdiri di ruang tengah yang sudah di bersihkan, wanita tua itu akan menari dan aku harus mengikutinya, namun ia akan melakukanya bila aku mendengar kedatangan makhluk yang mereka panggil nyai gerowok itu.

Tidak perlu menunggu waktu lama, tiba-tiba aku mendengar suara itu.. tipis dan halus namun begitu jauh, saat itu juga ketika aku memberi tahu wanita tua itu, tiba-tiba ia mulai menari dengan lincah, berlenggak lenggok di depanku dan memintaku untuk mengikutinya. Kedua orang tuaku tampak menatapku khawatir, tabuhan gendang mulai terdengar dari luar, tampaknya terjadi keramaian seseorang yang mungkin di panggil orang tuaku untuk membantu kami. aku mulai mencoba mengikutinya perlahan.. wanita tua itu terus menari di depan bersamakau dan saat itu lah aku begitu terkejut saat melihat tepat di depanku seorang wanita tua yang ku bayangkan berdiri melihatku, tubuhnya cacat dengan kaki bengkok, berjalan terseok-seok mendekatiku. Karena ketakutan, aku mulai menjerit, dan saat itu lah, kedua orang tuaku tiba-tiba mendekapku dan membawaku pergi dari tempat itu.

Wanita tua itu bersamaku dan kami meninggalkan rumah itu.

Setelah kami pikir kami sudah jauh meninggalkan tempat itu, wanita tua itu memperkenalkan dirinya bila ia dan nenekku dulu adalah penari adat, dan apa yang ku lakukan adalah memanggil makhluk yang biasa di sebut nyai gerowok, atas apa yang ku lakukan maka aku harus menerima akibatnya bila makhluk itu akan terus mengikutiku. Wanita tua itu memintaku membuka bajuku lalu mengamati luka hitam yang perlahan memudar, dengan wajah sedikit lega ia mengatakan bila ‘kami sudah aman’ untuk saat ini. Wanita tua itu berpesan untuk waktu yang lama sebaiknya tidak datang ke tempat ini. Selain untuk keselamatan akan lebih baik bila menjauhi malapetaka, alasan kenapa aku harus menari ialah untuk memberitahu bahwa itu adalah tarian meminta maaf.

Hingga saat ini, setiap aku mengingat kejadian itu rasanya aku masih bisa membayangkan wajah mengerikan itu. Namun, ada kalanya hingga saat ini, aku masih bisa mendengar samar-samar suara tawanya. Aku berharap—dia tidak benar-benar mengikutiku.


Tamat

1 comments:

  1. 05-08-2019...

    Cerita ini mirip alur cerita Hachisakusama...
    Cerita seperti ini benar² menarik dan bikin terbayang...

    ReplyDelete

 
Top