My Grandmother's Weight Loss

Sumber: /r/nosleep
Credit: talkinginbed

Begitu banyak cerita tentang pengurangan berat badan, kebanyakan di antaranya mengenai cacing. Aku punya cerita sendiri yang dikisahkan nenek. Umur beliau 92 tahun, selama itu, begitu banyak hal yang ia lalui. Saat masih kecil, aku selalu suka mendengar ceritanya, namun, setelah aku dewasa, cerita-cerita beliau terasa kelam dan tak jarang begitu mengguncang. Ini merupakan salah satu dari hal tersebut. Untuk mudahnya, aku akan menceritakan dari perspektif nenek –seperti bagaimana beliau menceritakannya padaku.

Aku tak pernah senang dengan tubuhku. Sedari kecil, aku merupakan gadis gemuk. Hal itu tak berubah saat aku dewasa. Anak-anak pria seumuranku tidak menyukaiku, sementara para gadis mengejekku. Tidak cukup sampai di situ, ibuku sendiri selalu berusaha membuatku ramping dengan tidak memberikan hidangan penutup atau menambah porsi makanan. Sungguh menyakitkan, kau tahu, mempunyai ibu yang memperlakukanmu terang-terangan seperti itu. Apa yang kuinginkan kemudian hanyalah untuk bisa menjadi kurus dan cantik. Namun kemudian, keadaan berubah.

Kami semua pindah untuk yang pertama kalinya. Sejak itulah berat badanku mengalami penurunan. Sebagian besar waktu, kuluangkan bersama ibu. Aku terus tidak mendapat makanan penutup, dan tentu saja tidak boleh minta tambah. Aku seolah ditempatkan pada sebuah program diet yang amat ketat. Makanan utamanya adalah sup. Bentuknya berrupa kaldu dan terkadang –jika sedang beruntung- kujumpai sedikit daging di dalamnya, namun yang lebih sering adalah sayuran. Untuk makan malam, hanya itu menunya. Pada paginya aku mendapat jatah secangkir kopi dan sekerat roti – kadang dengan olesan mentega, kadang tidak. Tak ada makan siang apalagi kudapan. Itulah makanan sehari-hariku.

Berat badanku turun dengan cepat, aku bahkan nyaris tak percaya. Awalnya aku senang, menjadi kurus sebelumnya merupakan mimpi. Rusukku mulai menonjol tanpa aku harus mengempiskan perut. Aku bisa melenggang tanpa mesti merasakan lemak yang berguncang pada betis atau paha. Namun kemudian, berat badanku terus turun. Rusuk yang menonjol? Aku tak bisa lagi menghitung jumlahnya. Aku menjadi lemah dan pusing setiap harinya. Saat mengempaskan tubuh di atas kasur pada malam hari, rasa lelah luar biasa seolah membuatku remuk. Menstruasi berhenti. Kulitku kasar dan kering seoalh bahwa aku tak pernah minum bertahun-tahun lamanya. Aku merasa dan terlihat layaknya jerangkong berjalan. Walau demikian, tak seorangpun yang mampu menolongku keluar dari masalah ini. Ibu menjerit saat melihatku telanjang. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk menolongku –dia tak punya kuasa untuk melakukan hal itu. 

Hal ini –diet ketat ini- berlangsung selama bertahun-tahun. Penurunan berat badan yang begitu parah ini nyaris merenggut nyawaku. Namun akhirnya, aku terselamatkan. Aku lolos dan bisa keluar dari Auschwitz, dan untuk pertama dalam sejarah hidupku, menjadi gemuk merupakan sesuatu yang kusyukuri.


Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top