You know Nothing Part 1

“Selamat pagi Clara, apakah semalam tidurmu nyenyak sayang?” 

“Oh, dokter Brandley. Tentu saja, tidak pernah senyenyak ini” 

“Okay. Berita bagus untuk di catat. Nanti siang, aku akan kembali, aku harap harimu menyenangkan”

“Kriiieekk!!” Pintu berderit tertutup.

Oh, aku harus menjelaskanya sekarang, aku adalah seseorang yang bekerja dengan banyak orang. Banyak orang yang ku maksud adalah aku bekerja dan yang banyak tadi adalah pasienku, mengerti. Lebih jelasnya, aku adalah seorang psikolog sekaligus seseorang yang bertanggung jawab atas mereka, aku adalah penanggung jawabnya. 

Ini adalah hari ke 46 kali aku sudah menjenguknya, setiap pagi. Aku harus terus menjenguknya, terus dan terus, karena bagaimanapun ini akan menjadi cerita yang menarik, maksudku ini adalah bagian yang penting. Ingat. Aku psikolognya, dan aku menganggap ini sangat penting. Aku memang seseorang yang sangat gampang terobsesi, maksudku obsesi adalah sebuah keuntungan yang ku miliki. Seseorang yang memiliki obsesi biasanya tidak cocok untuk seorang psikolog, setidaknya itu yang ku baca di buku. Tapi, lupakan.. aku pikir ini bukan tentang aku, tapi Clara..

Clara, adalah pasien yang menjadi tanggung jawabku, gadis muda, masih sangat belia bahkan, usianya masih 14 tahun, masih bau bocah tengik, namun.. dia sudah melakukan tindakan yang menarik jutaan pasang mata untuk tahu apa yang ada dalam pikiran si bocah kecil. Kini.. 5 negara bagian sedang menunggu, publikasi tentang si gadis kita ini. Oke. Aku tahu kalian bingung, aku memulainya dari bagaimana Clara kita ini menjadi terkenal.

1 bulan yang lalu, pertengahan desember, Clara Welder. 14 tahun, bersekolah di sekolah menengah di Sosiete. Gadis ceria, banyak teman, termasuk yang popular, dekat dengan orang tuanya, di sukai banyak orang karena prestasinya yang membanggakan, menjadi atlet berkuda termuda, tiba-tiba di kirim kepadaku, Dr. Brendley Chipper. Yang secara kebetulan adalah tetangganya. Jadi—ya, aku adalah tetangga Clara. 

Pertama kali dia di bawa di hadapanku, dia tidak menunjukka emosi yang tidak stabil, sebaliknya dia sangat normal, ceria, bahkan dia sempat bertanya. “apakah kau suka dengan pai anggur?” lucu bukan..

Jadi aku mulai membaca kasusnya, melihat setiap detail tulisanya, dan seketika aku seperti memekik dalam kengerian yang tidak dapat ku percaya, aku bahkan lupa harus menunjukkan ekspresi seperti apa, saat dia duduk santai di kursi yang biasa ku gunakan untuk meneliti atau mengetahui jalan pikiran pasienku, kursi yang biasanya di sebut sebagai kursi introgasi bila aku tidak salah.

Sementara di luar rumah, puluhan wartawan sudah menantiku, menanti kami tentang apa yang Clara lakukan.

Aku ingat, aku baru saja menghabiskan Selai cokelatku, sebelum membawa kertas itu ke hadapan Clara dan dia menatapku dengan bola mata biru, senyuman merah muda yang manis, sangat cocok untuk gadis usia 14 tahun.

“Jadi—Clara” kataku, yang di sambut 4 bola mata lain selain milik Clara, tepatnya 2 orang dari FBI. “apakah ini benar, maksudku. Kau membunuh kedua orang tuamu?”

“Ya” katanya dengan eksen tak bersalah, aku sedikit mengangkat alis, dan salah satu pria FBI mengerutkan dahi menatap Clara seolah dia ingin berteriak “What the H**l girls” namun aku memotongnya dengan degukkan seolah akan mengeluarkan dahak.

“oke Clara, “kataku lagi. “Kenapa? Kenapa harus membunuh. Oke. Ini terlalu cepat, maksudku.. Clara, apakah kau membenci orang tuamu? Apa mereka melakukan tindakan kekerasan terhadapmu ataukah..” aku melihat catatan itu, dimana di tulis dengan garis bawah besar “Clara gadis yang akrab dengan orang tuanya” aku menatap Clara lagi untuk menunggu jawaban.

|”Tidak. Aku tidak membenci mereka, mereka baik, tidak pernah memukulku atau memarahiku, sebaliknya mereka menyayangiku dan selalu mendorongku untuk melakukan hal baik” dia tersenyum tepat ke arahku seolah berteriak di dalam pikiranku “Ayo dok, pecahkan otakku ini. Kenpa? Kau kesulitan”

Aku berkali-kali mengusap keringat di dahiku, ini adalah kasus yang tidak pernah ku tangani, tidak pernah terfikir bahkan olehku, aku akan menghadapi gadis usia 14 tahun yang akrab dengan orang tuanya lalu mengakui dia membunuh orang tuanya dengan eksen senyum yang tidak menyesal. Apakah itu tidak sinting. Oke, aku memang bekerja untuk menangani orang sinting namun gadis ini, dia itu. Em.. lebih dari sinting.

“Baik Clara, Orang tuamu orang yang baik. Begitu bukan yang ingin kau katakan, aku mengenal orang tuamu, kita bertetangga dan mereka orang yang ramah. Jadi aku ingin bertanya sekali lagi, kau benar-benar membunuh mereka? Apakah tidak ada intimidasi dari siapapun.” Kataku, salah satu anggota FBI melangkah maju seolah mengatakan “Dok, aku pikir…”

“Stop!!” kataku pada mereka, “bisa anda membiarkan saya bekerja, tidakkah saya mencoba untuk memastikanya sebelum mengetahui sesuatu yang di tutupi tuan-tuan”

Pria FBI itu kembali ke tempatnya, bersandar pada pintu dan menatapku datar.

“Iya dok. Aku yang membunuhnya, aku.. itu perbuatanku” Clara menatapku seolah menjelaskan bahwa “iya memang aku” dan itu cukup membingungkanku.

Aku berhenti siang itu. Lalu membiarkan Clara untuk beristirahat sementara aku dan 2 FBI saling berbicara.
“benar yang ada dalam catatan ini. Clara dan orang tuanya akrab tidak ada kekerasan sebelumnya. Maksudku, apakah semua catatn deskripsi ini benar-benar tentang Clara, aku hanya ingin memastikan sebelum aku mulai memojokkanya, mengeluarkan isi kepalanya dan tahu apa penyebab dasar dari kasus ini.” Aku tahu suaraku gemetar tegang, dan 2 FBI itu menatapku dengan meyakinkanku bahwa semua data itu di peroleh dari tetangga lain, teman sekolah, guru bahkan semua orang yang mengenalnya.
Aku membaca ulang catatan itu. Lalu berbalik ke arah mereka kembali. “begini, sekali lagi. Cara dia membunuh maksudku, uji langkah yang di lakukan kepolisian bagaimana si pelaku membunuh apakah ini seratus persen bisa di percaya??” 

“Iya—tentu saja dok. Pemindai TKP ini di lakukan oleh detektif ahli, jadi pasti bisa di percaya.” 

Aku kembali duduk, menatap Clara, lalu menawarkan Clara untuk minum, agar tidak ada ketegangan namun yang terlihat Clara sangat tenang, tidak terburu-buru sebaliknya aku yang terlihat tegang. Aneh.

“Clara. Sekali lagi apakah benar kau yang melakukanya?? Aku bisa membantumu Clara bila ini bukan perbuatanmu?”

“Dok” bola matanya bergerak kearah mataku, “Itu aku!! Serius, aku yang membunuh orang tuaku”

“Bagaimana kau melakukanya?” kalimat itu tiba-tiba meluncur, seharusnya, aku tidak mengatakanya sebelum memancing dan memojokkanya, namun entah kenapa tiba-tiba terucap dengan mudah oleh lidahku.

“Oke.” Kata Clara, meneguk air putih di meja. “Dokter, jadi. Sore hari, setelah aku pulang dari latihan esay di sekolahku, aku berjalan pulang, aku masuk ke sebuah Toko perkakas, membeli beberapa kabel, tali tambang, lalu berjalan pulang, sebelum aku menuju rumah, aku mampir ke rumah pacarku.”

“Pacar” kataku terlihat kaget, “siapa pacarmu. Apa dia orang sini??”

“iya. Tomi Dorten.” 

“berapa usianya Clara?” 

“30 tahun” Clara mengatupkan bibirnya seolah ingin tertawa menatapku.

“30 tahun. Kau berpacaran dengan pria 30 tahun” aku seperti ingin meledak, dan mengumpat “Oh gadis manis, kenapa kau tidak bilang kau itu benar benar Bit*hiiii… tapi entah, aku juga ingin tertawa geli. Maksudku, gadis ini, astaga.. 

“Oke Clara. Apa yang kau lakukan dengan pacarmu?” aku sebenarnya ingin bertanya, apa yang selama ini kau lakukan dengan pacarmu, tidurkah.. berciuman ataukah dia sudah meletakkan mulutnya di sela*gka*ganmu. Tapi aku pikir itu tidak tepat, dan akan terdengar menyebalkan bila 2 FBI ini tahu. Pasti seperti lelucon garing di saluran Netflix. Astaga, gadis 14 tahun dan pria 30 tahun. Gila.. hahaha.

“aku berciuman denganya di gang” saat itu aku benar-benar sudah tidak bisa menahan tawa, kau tahu. Gadis kecil ini sedang mempermainkanku, aku tahu itu. Sorot matanya, dan aku melirik 2 FBI sepertinya juga terusik dengan ucapan Clara. “sebenarnya saat itu aku juga mau melakukan itu. Kau tahu kan maksudnya itu.. tapi ini di gang. Jadi aku bilang ‘jangan sayang’ kepanya..”

Baiklah aku sudah tertawa, dan aku yakin 2 FBI itu pasti berpikir, “inilah kenapa aku melarang anakku untuk melihat acara Por*o di situs murahan!!”

“tapi sebenarnya..” Clara masih berbicara namun suaranya rendah, “aku meminta Pistol darinya, sebelumnya aku memintanya untuk mencarikan Pistol”

Seketika tawaku yang ku tahan berubah menjadi emosi yang bertaut serius, “Pistol!!” aku cukup kaget mendengarnya, aku melirik kearah 2 FBI, “ pistol teman, apakah kau sduah menangkap pria Pedofil ini”

2 FBI mengangguk, “iya. Dia ada di kantor polisi sekarang” katanya. 
“baiklah” kataku lagi, “aturkan jadwal untukku, aku ingin bicara dengan pria Pedofil kita” aku kembali focus pada Clara, 
“Untuk apa Pistol itu Clara?” seharusnya aku tidak bertanya itu, karena jawabanya pasti tentang.. namun aku tetap harus bertanya, sorot mata adalah segalanya, disanalah aku bisa melihat kejujuran.

“Membunuh Ayahku. Dia orang kuat tidak seperti ibuku yang lemah, jadi—aku butuh Pistol bila ingin menembak kepalanya”

Aku meletakkan kedua tanganku di wajah seolah gadis ini.. ya ampun. 

“Oke Clara, kita bicara itu nanti. Sekarang apa kau mendapatkan pistolmu darinya??” kataku lagi.

“Iya. Pistol jenis Water-099 . “ 

“lalu. Kau pulang ke rumah, ?” 

“tentu saja. Aku sudah punya apa yang aku butuhkan..” Clara tampak mulai bosan, wajahnya seperti ingin meludahiku, jadi aku mengatakan, “Clara. Kau pasti butuh istirahat. Aku tahu Clara, tapi aku ingin bertanya beberapa hal?? Boleh kan..”

“iya iya iya—tapi cepatlah, aku mengantuk.”

“baiklah. Kali ini lebih serius Clara. Disini di tulis, kau membunuh ibumu tepatnya di kamar mandi, sedangkan ayahmu tewas di ruang kerjanya, seperti sebelumnya dimana kau menjelaskan bahwa kau memiliki Walter – 099 , dan lubang di dahinya sudah menjelaskan segalanya. Ini brutal Clara, kau tahu. Ini bukan game dimana kau membunuh lalu kau akan tertangkap beberapa detik kemudian kau di bebaskan dan kau bisa membunuh lagi seenaknya, “ aku mengatakan itu dengan nada tinggi, seperti memarahi anakku sendiri, ini lah kenapa, Game tentang geng itu begitu menjijikkan.. “Clara, Clara.. bersikap seriuslah, aku tahu kau masih anak-anak, dan anak-anak sangat mudah di kelabuhi. Katakan.. apakah kau yang membunuh mereka? Kau yang mengikat leher ibumu dengan kabel, menyeretnya ke kamar mandi.. lalu menembak dahi ayahmu.. ? katakan Clara kenapa kau membunuh mereka. Kenapa. Kenapa? Kenapa?”

“Karena aku harus membunuhnya.” Aku menatap lurus bola matanya dan seketika berujar “Astaga!! Gadis ini berkata jujur”



1 comments:

  1. Daftarkan Diri Anda Sekarang Juga Di www.bolacasino88.com Agen Judi Online Terpercaya Di Asia.

    Pelayanan Yang Professional Dan Ramah
    Di Jamin 100% Tidak Adanya BOT Dan ADMIN.

    - Minimal Deposit 20.000
    - Minimal Withdraw 50.000

    Dapatkan Hot Promo Kami Seperti :

    - Bonus Refferal Seumur Hidup
    - Bonus Sportsbook 100%
    - Cashback Sportbook 5% - 15%
    - Bonus Deposit Games 10%
    - Cashback Games 5%
    - Bonus Komisi Casino 0,8%

    NB : Syarat Dan Ketentuan Berlaku

    Nikmati 7 Permainan Dalam 1 Web Seperti:

    - Sports
    - Live Casino
    - Togel
    - Poker
    - Slot Games
    - Nomor
    - Financial

    Untuk Informasi Lebih Lengkap Silahkan Hubungi Customer Service Kami :

    - Live Chat 24 Jam Online
    - No Tlp ( +855962671826 )
    - BBM ( 2BF2F87E )
    - Yahoo ( cs_bolacasino88 )
    - Skype ( bola casino88 )
    - Facebook ( bolacasino88 Official )

    Hot News :

    https://prediksitogelgoyangasoi.blogspot.com/2017/11/masi-ingat-aksi-walk-out-persib-vs.html
    https://prediksitogelgoyangasoi.blogspot.com/2017/11/saat-laga-melawan-feyenoord-pep.html
    https://prediksitogelgoyangasoi.blogspot.com/2017/11/pertandingan-lawan-guyana-sekaligus.html

    ReplyDelete

 
Top