Do you Want to Play

Aku mengenalnya saat di pesta tahun baru. Ya, aku ingat.. walaupun samar-samar, namun aku adalah pengingat yang hebat. Seperti kemarin saja, dia begitu mempesona saat itu, sementara aku memandangnya dengan salah tingkah, mengenggam segelas bir yang bahkan tidak pernah ku minum sebelumnya, saat itu.. aku benar-benar mabuk kepayang kepadanya, pria tinggi dengan senyuman menawan. Dia datang kepadaku layaknya pria yang hebat, lalu sedikit rayuan dan aku harus mengakui.. “aku jatuh cinta kepadanya”. Namanya Dean Arthur, pria mapan dengan pekerjaan tetap sebagai usahawan muda, (itu yang dia bilang kepadaku) , setelah semua rentetan perhatian yang dia berikan kepadaku.. aku harus mengakuinya, aku benar-benar mencintainya.

4 bulan setelah kejadian itu, Dean melamarku.. aku harus diam untuk tidak percaya sebelum melihat cincin indah itu melingkar di tanganku. Dean benar-benar menjadi pria impianku. Tampan, mapan dan begitu romantis, tidak ada yang membuatku lebih bahagia saat bersamanya, bahkan aku berani bersumpah, mungkin Dean adalah pria paling di idamankan para gadis.

Pernikahan kami berjalan sangat indah, kami mengundang banyak teman, keluarga dan berbagai hadiah berdatangan pada kami, Dean menciumku di bawah bunga mawar bermekaran, di saksikan banyak orang.. seperti mimpi. Dean adalah pria terbaik yang berhasil ku temukan.

Satu bulan setelah pernikahan, Dean tetap menjadi pria yang romantis. Tiap aku akan tidur, dia akan mengcup keningku, membenarkan selimutku kemudian membisikkan kalimat cinta yang indah, lalu ketika hari sudah berganti—dia akan duduk di ujung ranjang, memandangku lalu berujar kepadaku “aku ingin menjadi pria pertama yang selalu kau lihat saat terbangun” terkadang romantismenya terlalu berlebihan namun tetap saja itu semua sangat indah dan aku suka..

Namun, semua tampaknya mulai berubah saat berita itu muncul. Aku harus menerima bahwa terjadi gejolak ekonomi global dan membuat perusahaan Dean jatuh, sebagai seorang isteri.. aku berusaha mendampinginya, menyemangatinya.. namun aku tahu, Dean lebih murung dari biasanya.

Kami memutuskan pindah ke rumah yang lebih kecil, sederhana dan biasa, namun aku tidak akan mengeluh tentang itu, bagiku apapun yang terjadi pada kami, Dean tetap adalah suamiku dan aku selalu mendampinginya. Awalnya ku pikir semua akan kembali menjadi baik, Dean akan bisa melewati masa sulit seperti ini.. namun aku salah, tidak ada lagi hal romantis, tidak ada kecupan selamat tidur, tidak ada ucapan selamat pagi dengan senyuman manis, tidak ada..

Dean lebih banyak murung dan menenggak banyak minuman keras, aku berusaha menasehatinya namun dia hanya memandangku lalu menenggak lagi di depanku, seolah-olah dia sengaja memancingku. Aku masih mencoba mengerti, kenapa Dean seperti ini.. dia pasti frustasi dengan keadaan baru ini.

Semakin hari, Dean semakin berubah.. tidak ada lagi pria mempesona yang lembut, sekarang Dean benar-benar menjadi pria muram, rambut acak-acak’an, jambang di biarkan tumbuh liar di dagu, dan memilih tidur di sofa sementara aku berbaring di ranjang.. kau pikir aku akan muak dengan sikapnya?? Tidak.. aku tetap menjadi isteri yang baik, aku percaya masih ada kebaikan di dalam dirinya.

Siang itu, aku mendengar Dean berteriak.. dan aku langsung menghampirinya yang berdiri di depan lemari es, memandangku sengit kemudian berujar dengan nada kasar “Dimana Birku dasar kau sundal??“

Aku tidak pernah mendengar Dean memanggilku seperti itu, aku hanya mencoba untuk sabar lalu menjelaskan bila aku tidak membeli Bir lagi, tidak ada Bir sekarang atau nanti. Tidak akan ada. Bir hanya akan menghabiskan uang di bank tanpa ada hasilnya, namun Dean tidak terima, dia menghampiriku, menarik paksa rambut panjangku, lalu melemparku hingga aku harus menabrak meja dengan rusuk membentur keras, dan membuatku harus tidak sadarkan diri untuk beberapa detik.. aku memandangnya dengan wajah iba, berharap dia khilaf dan meminta maaf beberapa saat kemudian, namun Dean tidak melakukanya.. dia melewatiku dengan pesona wajah jijik.

Semakin hari— dan bertambah hari Dean semakin jauh lebih buruk, dia selalu menamparku saat kesal, bukan karena kesal kepadaku, namun kesal karena team sepak bola kesayangnya kalah, kadang dia sengaja memecahkan piring atau gelas, apapun agar aku membersihkanya, yang lebih buruk, dia pernah memukuliku layaknya pria yang memiliki ukuran yang sama denganya, intinya aku selalu berakhir dengan wajah lebam dan rasa nyeri yang berlebihan.. kau pikir aku akan melaporkan suamiku.. tidak!! Aku adalah isteri yang baik.. jadi aku tetap akan mendampinginya.

Setiap hari pagi dan malam, aku selalu menghidangkan segelas kopi untuk menggantikan Bir, awalnya dia tidak suka dan menendang badanku hingga aku terjorok ke lantai.. namun perlahan-lahan dia mulai menyukainya, bukan menyukai sebenarnya, mungkin lebih tepatnya terpaksa atau dia sudah lelah menghukum atau menghajarku karena meskipun dia pernah menghajarku tapat di wajah dan aku tetap saja membuat kopi untuknya mungkin akhirnya dia menyerah, dia mulai terbiasa dengan kopi buatanku, dan aku masih menjadi isterinya dan mengurus segalanya, mempersiapkan makanan hari ini.. memberikan selimut saat dia tertidur di sofa. yang jelas, aku tetap isterinya. 

Sudah 2 tahun aku hidup seperti ini, sementara Dean menjadi pengangguran. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di depan Tv sementara aku bekerja paruh waktu, aku masih rutin membuatkanya kopi sebelum bekerja, terkadang saat aku pulang bekerja Dean akan sangat marah bila aku belum membuatkan dia kopi untuknya.. jadi dia akan menamparku, menendangku, memukuliku.. bahkan sekali—dua kali dia menghantamkan kepalaku ke tembok atau mencekikku liar, mungkin kau berpikir aku adalah wanita gila yang masih bertahan dengan pria seperti ini.. namun buktinya aku tetap bertahan, saat Dean melakukan penyiksaan itu yang dia sebut dengan (istilah-) permainanya.. aku berusaha tidak menangis, Dean akan memperlakukanku lebih keji kalau aku menangis, jadi hari ini setelah Dean menghantamkan kepalaku di almari, aku berusaha menahan agar tidak ada satu tetespun air mata mengalir, lalu aku bergerak ke dapur dan membuatkanya kopi..

Keesokan paginya, aku terbangun karena Dean berteriak seperti memanggilku namun kalimatnya tidak jelas, jadi aku bergegas menemuinya yang terbaring di atas sofa memandangku. “kau memanggilku sayang?“ kataku kepadanya.

Dia menatapku dan berbicara namun aksen kalimatnya tidak jelas.

“kau tidak apa-apa??“ kataku mulai khawatir, wajahnya tampak pucat dengan jambang lebat di sekitar bibirnya, matanya merah seperti baru saja menangis, nafasnya tampak tidak teratur namun dia tetap terjaga melihatku. Aku menggotongnya menuju kamar agar dia lebih nyaman, aku masih memandangnya bingung.. Dean masih berusaha berbicara kepadaku, kalimatnya masih tidak jelas, aku tidak mengerti satu kalimatpun yang keluar dari bibirnya, aku semakin khawatir, ketika aku akan menuju dapur tiba-tiba Dean berteriak dengan sangat keras kepadaku sampai aku berbalik memandangnya... “DASAR KAU JA*ANG SUNDAL“

Saat itu, aku langsung berjalan kepadanya kemudian duduk di sampingnya.. aku yakin, itu adalah kalimat paling jelas yang pernah ku dengar, jadi aku mulai menceritakan kepadanya tentang kisahku—yang bertemu dengan Pangeran hidupku.

“ Kau tahu sayang!! Dulu aku mengenal seorang pria hebat yang sangat ku cintai, mungkin masih ku cintai.. aku dan dia hidup seperti di negeri mimpi. Indah dan menyenangkan, namun semua itu hanya untuk waktu yang singkat dan kini semuanya berubah seperti mimpi buruk, tepatnya.. saat badai bergelagar.. kau selalu menamparku bahkan untuk kesalahan yang tidak ku lakukan, kau juga akan memukulku, menghajarku atau mencekik liar leherku, lalu aku akan menjadi isteri yang baik dengan menerima semua itu.. kau benar sayang, aku memang isteri yang baik.. mungkin aku terlalu idiot atau bodoh atau tolol atau apapun itu, sampai kenapa aku tidak pernah berpikir kalau sebenarnya aku bisa saja melaporkanmu dengan tuduhan penyiksaan, kekerasan dalam rumah tangga atau yang lainya.. pernahkah kau berpikir seperti itu. Ku rasa tidak!!

Tapi aku tidak melaporkanmu, percayalah. Aku bersumpah, namun semua tindakan keji yang kau lakukan, apakah ku terima dengan senang hati. Ku rasa tidak.. dan aku yakin kau juga tidak akan repot-repot memikirkanya. Aku jadi ingat, saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah, ada gadis idiot yang berpikir dirinya cantik, lalu melakukan bully’an terhadapku hanya karena beberapa pria populer lebih memilih mendekatiku, jadi dia akhirnya mempermalukanku, membuatku hancur dan aku selalu diam saat dia memperlakukanku seperti itu, sebenarnya aku tidak pernah diam. 

tidak untuk sesuatu yang menyakitiku.. jadi suatu hari, aku memotong rantai sepedanya, membuatnya harus berjalan kaki pulang di siang yang terik, kemudian aku muncul bagaikan pahlawan untuk memberikanya minuman dingin, meskipun sebelumnya dia curiga. Aku tahu dia curiga, namun karena dia haus, dia meneguknya tanpa tahu apa yang ada di dalamnya, hanya 1 botol campuran obat tidur, setelah dia jatuh pingsan karena tertidur atau mungkin over dosis.. aku tidak perduli, aku membawanya, menelanjanginya, dan melemparkanya ke tempat prostitusi, menuliskan sesuatu di tubuhnya, bahwa kau bisa menidurinya dan mendapatkan 20 dollar, memotretnya dan membuat semua orang tahu bahwa dia pantas mendapatkanya, intinya.. gadis itu sudah tewas, tapi jangan berpikir aku yang melakukanya, dia murni bunuh diri, memang benar secara tidak langsung aku lah yang membuatnya melakukan itu. namun itu setimpal. setimpal dengan apa yang dia lakukan terhadapku..

Sekarang.. denganmu, setelah mendapatkan perlakuan kejimu selama 2 tahun, apakah aku akan diam. Tidak sayang. Aku tidak diam selama 2 tahun ini, kau tahu.. kopi yang kau tengguk, ya, aku memberinya beberapa tetes cairan Etanol hanya agar sedikit demi sedikit kau akan kehilangan kewarasanmu.. kemudian perlahan kau semakin lama menjadi semacam pecandu, semacam si sinting yang meminta obat, ku berikan tambahan eroxidant, setiap hari aku memberikanmu itu, pagi dan Malam, ku sediakan apel sebagai Asam poldaoit sebagai penghambat rasa sakit ususmu.. perlahan—namun yang pasti aku tahu, saat-saat seperti ini akan tiba.

Semua otot dalam tubuhmu sekarang akan mati rasa, perlahan jaringan otakmu akan rusak, ginjalmu akan terbakar.. Hatimu akan mengeras dan semua aliran darahmu akan saling menghantam, menciptakan gelombang rasa sakit yang membuat kepalamu seperti akan pecah, kau akan lumpuh selamanya, kau akan menjadi orang yang paling tidak berguna.. dan yang lebih aku suka dari semuanya adalah kau tidak akan mati. Tidak selama aku masih ada disini, kau akan merasakan sakit ini, setiap detik, menit, jam.. merasakan gelombang sakit di perutmu, bola mata mengejang.. nafas tersenggal, bahkan kau hanya bisa memompa paru-parumu setidaknya tidak lebih dari 40 kali dalam setiap menit, kau akan seperti manusia di ujung maut.. tenggorokanmu akan mengering dan menciptakan secarik selutomy yang pahit, ya.. kau akan merasakan pahit di tenggorokanmu, bahkan air putih yang akan kau tenguk nanti akan serasa seperti racun. Intinya—kau akan kembali menjadi pria yang pernah ku cintai.

Sekarang, ku harap semua yang ku katakan.. sudah menjadi jawaban segalanya. Percayalah.. aku tahu cara bermain yang benar.



Bila aku melaporkanmu pada polisi, atau membalas menghantammu dengan sesuatu yang keras, bahkan sampai kau meninggal, itu tidak akan menyenangkan.. tidak akan membuatmu mengerti rasa sakit yang ku rasakan, karena kau tahu.. aku sengat cerdas dalam permainan seperti ini. Jadi.. ku harap kau menikmati akhir dari Permainan ini. Permainan kita berdua.. kau dan aku.


Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top