33 Driver's Licenses

Aku menemukan kotak perkakas itu saat sedang main petak umpet. Waktu itu, aku sedang bersembunyi di lemari yang dibangun ayahku di garasi, dan setelah duduk selama 15 menit, aku jadi penasaran dan membuka kotak itu. Di dasar kotak perkakas tua itu, ada sesuatu yang tertutup macam-macam sampah.

Ternyata sebuah kotak kayu kecil, terbuat dari kayu dan dicat hitam. Kotak itu ada kuncinya, tapi mungkin karena terburu-buru, ayahku nampaknya lupa menekan kuncinya sampai benar-benar masuk ke dalam lubangnya, jadi aku bisa membukanya.

Di dalamnya ada banyak sekali SIM. Semuanya milik wanita muda. Mereka cantik-cantik, dan tinggal di negara bagian yang berbeda. Itu saja isinya. Aku lalu bergegas mencari nama wanita-wanita tersebut lewat Google, dan semuanya ternyata dinyatakan hilang.

Aku mengorek-ngorek isi kotak itu, menghitung semua SIM di dalamnya, dan aku berhenti menghitung setelah 33 SIM, dimana aku menemukan amplop putih di dasar kotak. Di dalam amplop itu ada 33 lembar foto buram, nampaknya dicetak dari printer kuno kami di ruang keluarga lantai dua. Setelah melihat tiap foto itu, aku seketika tahu bahwa 33 wanita yang hilang tersebut tak akan pernah ditemukan hidup-hidup, atau setidaknya tidak akan ditemukan utuh kecuali jika sudah terdiri dari 3 atau 4 potongan tubuh.

Aku buru-buru mengembalikan tiap foto dan SIM itu ke dalam kotak sesuai dengan posisi aslinya. Aku menekan kuncinya sampai hanya separuh, seperti keadaan sebelumnya, dan kukembalikan kotak perkakas itu serapi mungkin. Aku bilang pada adikku bahwa aku ingin berhenti main petak umpet, sebelum masuk ke rumah. Sebelum melalui pintu, aku sempat melihat sebotol racun tikus di garasi.

Selama 3 minggu berikutnya, aku menaruh sedikit racun tikus di dalam makanan ayahku. Setiap kali ibuku harus bekerja shift malam di rumah sakit dan aku kebagian tugas memasak, aku selalu memastikan untuk memasukkan racun tikus ke makanan ayahku. Aku juga memasukkan sedikit baking soda ke makananku dan adikku, sehingga adikku akan mengeluh makanannya juga tidak enak, dan aku tak akan dicurigai apapun kecuali hanya bahwa aku koki yang buruk. Ayahku, terpujilah dia, selalu memakan masakanku sampai habis. Aku terkadang mengecek kotak perkakas itu dan melihat 33 foto wanita malang itu, agar tetap tabah melakukan ini. 

Ibu dan adikku sangat sedih ketika ayahku meninggal. Aku juga sebisa mungkin berakting; aku bahkan menangis. Tapi, aku tidak menangisinya, melainkan menangisi 33 wanita malang itu.

Beberapa bulan kemudian, aku memutuskan untuk menyingkirkan barang bukti. Aku berniat mengirimkan foto-foto dan SIM tersebut ke kantor polisi di negara bagian yang berbeda, sehingga keluarga wanita-wanita tersebut setidaknya bisa mengetahui nasib mereka.

Akan tetapi, aku menjerit histeris ketika melihat bahwa kini, di dalam kotak itu, ada 35 lembar foto dan SIM.

Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top