Night Study

Nina mengerutkan kening. Ia yakin ia sudah mengerjakan tugas sesuai petunjuk ayahnya, tapi sepertinya masih salah. Coba kalau ia bisa tanya ayahnya langsung! Sayangnya, ayahnya belum juga pulang, padahal sudah pukul 9. Nina biasanya tidur pukul 10, dan ia takut keburu mengantuk sebelum ayahnya pulang.

"Ayah kemana sih?" Keluh Nina keras-keras. Ia sudah 10 tahun, sudah besar (menurut dirinya sendiri, setidaknya), tapi ia paling benci kalau ayahnya pulang terlambat. Biasanya, ayahnya setidaknya menelepon kalau akan pulang terlambat. Rumah mereka besar dan bertingkat, tetapi sudah cukup tua dan kerap mengeluarkan bunyi aneh di sana-sini, jadi sendirian di rumah saat malam benar-benar menyebalkan baginya.

Nina melangkah ke luar kamar belajarnya, dan berjalan menghampiri ruang tamu. Di luar sepi dan gelap, dan ayahnya belum juga pulang. Dengan kesal, Nina menghempaskan diri ke sofa. Ayahnya selalu menemaninya belajar, dan walau Nina yakin bisa mengerjakan tugasnya sendiri, ia benar-benar butuh bantuan ayahnya kali ini.

Nina melonjak gembira ketika ia mendengar suara mobil ayahnya memasuki garasi. Akhirnya! Dengan langkah-langkah gembira, Nina mendekati pintu, dan ketika ayahnya mengetuk pintu serta memanggilnya, Nina langsung membukanya.

"Ayah!"

"Nina? Kok belum tidur? Sudah belajar?"

"Kok ayah pulangnya lama?"

Sang ayah mengelus kepala Nina dengan sayang.

"Maaf, sayang, mobil ayah mogok di jalan. Baterai ponsel ayah juga habis. Kamu sudah belajar?"

Nina mengangguk. "Sudah, tapi ada yang aku tidak bisa. Yang terakhir ayah ajari itu lho."

"Oh ya? Bukannya kita sudah belajar sama-sama? Coba ayah lihat."

Dengan riang Nina menggandeng tangan ayahnya menuju kamar belajarnya.

"Coba, mana yang kamu masih tidak bisa?" Tanya ayah Nina.

Nina menunjukkan hasil tugasnya. "Itu, yah. Aku masih belum bisa lakukan seperti ayah."

"Ah...ya, ya."

Ayah Nina berjongkok di depan tubuh perempuan muda itu, yang terikat tali tambang dan terbaring di atas lembaran plastik tebal. Tubuh perempuan itu kelojotan dan suara menggelegak terdengar separuh teredam dari balik sumbat mulutnya, matanya melotot. Darah di leher perempuan itu menutupi beberapa goresan yang nampak tidak rapi, seolah yang melakukannya sempat ragu-ragu.

Ayah Nina menelusuri garis luka di leher wanita itu dengan seksama, lantas mengangguk-angguk dengan wajah paham.

"Coba, sini pisaunya, sayang."

Nina mengambil pisau yang tadi diletakkannya di atas meja, dan mengulurkannya pada ayahnya.

"Nah, coba lihat baik-baik, kau harus menggoreskan pisaunya dengan mantap, jangan tergesa-gesa atau ragu-ragu, dan pastikan kau mengenai nadi vital, oke? Seperti ini...."

Nina memerhatikan dengan serius ketika sang ayah menggorok leher perempuan itu dalam-dalam dengan satu sayatan mantap, menimbulkan semburan darah baru di atas lembaran plastik; gerakannya sama sekali tak kikuk seperti dirinya barusan. Kali ini, perempuan itu hanya kelojotan sebentar sebelum akhirnya berhenti bergerak.

"Sudah mengerti?" Nina mengangguk semangat.

"Lain kali, kau harus bisa lakukan sendiri, ya?" Nina mengangguk lagi. Ya, lain kali, ia pasti bisa sendiri tanpa dibantu.

Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top