Dark Alone

Ini kembali terjadi lagi, aku melihat mereka di setiap sudut tempat dimana aku akan pergi, bahkan aku tidak pernah menduga sebelumnya, mereka (Makhluk mengerikan) ini bahkan ada dan berdiam di setiap sudut Rumahku.

Ini terjadi, ketika pertama aku membuka mataku setelah mengalami Koma yang Panjang, sejak saat itu, aku bisa melihat, merasakan kehadiran mereka.

Di Halte Bus, aku akan bertemu, wanita Tua mengerikan dengan rambut putih panjang, di mana wajahnya tidak memiliki kulit, dia akan menatapmu terus menerus, dengan seringai mengerikan.


Atau saat di kamar mandi sebuah perbelanjaan, saat kau berkaca menatap wajahmu, dia ada di belakangmu, wanita mengerikan yang terus tersenyum pucat dengan rambut menutupi sebagian wajahnya, dimanapun, mereka selalu ada, di Lift, di parkiran, dimanapun.

Aku tidak pernah meminta bisa melihat mereka, bahkan aku tidak pernah berharap bisa melihat mereka, namun sekarang, aku harus menerima semua ini. Saat dulu aku hanya mengatakan, bahwa tidak ada kehidupan lain di dunia ini selain manusia, maka saat ini aku hanya bisa berharap apa yang ku katakan dulu tetaplah sebuah Fakta!!

Aku membuka pintu Rumahku, berjalan terhuyung menuju sofa dengan lampu pijar temeram, di selimuti kegelapan. Aku bisa menatap makhluk yang melotot ke arahku, dengan mata merah menyalanya. Wajahnya yang mengerikan, mengikuti gerak langkahku hingga Sofa, dia terus melotot seolah melihatku penuh dengan kebencian, Kuku panjang di tanganya, hingga wajah penuh gerutan luka tersobek, aku merasakan kengerian dalam gerakku.

Makhluk apapun itu, aku tidak pernah berinteraksi denganya, ataupun mereka semua.


Aku hanya bisa melihatnya, tapi tidak pernah mencoba untuk berinteraksi, ketika aku melamun melihat tubuh besarnya, aku tersentak saat makhluk itu bergerak, berjalan menuju ke arahku.

Aku terdiam beberapa saat, mengalihkan pandanganku, berusaha menepis bahwa aku tidak melihat apapun, namun makhluk itu tetap mendekatiku, hingga dia berdiri tepat di hadapanku.


Aku mencoba melihat, mata merah menyalanya.

Dia bersuara dengan keras dan berdeham, menggelegar..

“Kenapa Kau tidak mencoba menerima bahwa dirimu Sudah Meninggal Nak…?!”

Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top