Swamp Childern

Sepupuku Ben memiliki sebuah pondok di tepi danau, di mana dia dan keluarganya menghabiskan liburan mereka. Aku selalu iri saat mendengar cerita sepupuku tentang petualangannya di hutan dan danau sepulang dia dari sana, jadi aku begitu gembira ketika keluarganya mengundang kami untuk berlibur musim panas di Virginia bersama mereka.

Di hari pertama kami bergadang sepanjang malam, duduk mengitari api unggun dan memanggang marshmallow. Orang tua kami bercengkerama membicarakan hidup mereka, sedangkan aku dan Ben saling bertukar cerita seram. Sebuah suara yang melalui danau terdengar olehku, seperti suara tawa dari kejauhan. Aku menengok ke belakang, memandang ke arah kegelapan di permukaan danau, aku melihat percikan kecil api jauh di tepian ujung sana. Aku selalu mengira bahwa pondok sepupuku berada di tempat terpencil, tapi kemudian aku menyadari bahwa lokasi seindah ini pasti menarik perhatian banyak keluarga kaya lainnya untuk mendirikan pondok tepi danau dan menikmati api unggun setiap malam.

"Giliranmu."

"Hmm?", jawabku dengan tampang dungu. Ben telah menyelesaikan cerita, dan aku melewatkan plot seramnya. Aku berpikir sebentar, lalu mulai menceritakan kisah seramku.
Esok paginya, aku berjalan keluar menuju balkon dan memandangi danau yang tenang. Aku teringat akan suara tawa tadi malam, lalu aku melihat ke arah di mana aku ingat melihat cahaya api unggun, berharap melihat sebuah pondok lainnya. Aku memandangi tepian danau di kejauhan untuk beberapa menit sebelum sepupuku menghampiri.
"Mana pondokan lainnya?" tanyaku.
"Yah," jawabnya, "ada beberapa di sekitar sana.." dia menunjuk arah utara di ujung danau.
"Kau tak dapat melihatnya dari sini. Aku kira juga ada lagi pondok di ujung selatan sana."
"Kalau di arah lurus dari sini?" Ben memandang ke arah yang aku tunjuk.
"Tidak, tak ada apa apa di sana. Hanya ada rawa dan semacamnya."
"Hmm," aku mendeham, berusaha terdengar tak terlalu kaget. Apa yang ku lihat tadi malam? Aku sudah pernah mendengar tentang cahaya rawa sebelumnya, semacam reaksi alami saat gas bercampur dengan udara, tapi bagaimana dengan suara tawa itu? Apa yang telah ku dengar? Aku memutuskan memberitahu sepupuku tentang ini.

"Apa kau yakin itu suara tawa?" tanya Ben. "Mungkin saja itu suara binatang. Rakun, begitulah..."
Mungkinkah begitu? Aku tak yakin jika otakku mengada ada, tapi setelah kuingat ingat, suara yang kudengar agak aneh, hampir tidak seperti suara manusia.

"Kita bisa memeriksanya hari ini, jika kau mau," kata sepupuku. "Ayah kita bilang mereka ingin pergi memancing, tapi kita bisa pakai perahu dayung yang usang."

"Baiklah," aku menyetujui.

Air berkecipak tenang membentur perahu kecil kami sembari aku mendayung di airnya yang gelap ke atas dan ke bawah. Aku heran, angin berdesir membuat permukaan danau bergelombang, tapi tidak di bagian ini, dan cipratan air yang muncrat ke wajah kami seperti menggambarkan kemarahan rawa ini atas kehadiran kami.

"Lihat itu," tunjuk Ben. Dua batang pohon layu menyembul ke permukaan air, dan terjepit di antara akar akar busuknya sebuah perahu tua. Lambungnya rusak parah, posisinya tertelungkup terlihat seperti kanopi di atas air yang kehijauan, aku membayangkan berbagai macam bangsa katak, ular dan binatang berlendir lainnya membuat sarang lembab mereka di bawah tangkuban kubah perahu itu.
"Menurutmu mereka tenggelam?" tanyaku, penasaran akan nasib dari pemilik perahu.
"Siapa tahu," jawab sepupuku. "Mungkin."
Sesuatu menampar bagian bawah perahu kami, dan aku berusaha untuk tidak membayangkan yang bukan bukan.
Ben kembali mendayung saat kami berada di bawah ranting pepohonan, dan dia mengarahkan perahunya menembus rumpun dahan dahan pohon berlumut hingga perut kami berbunyi karena lapar.
"Sebenarnya aku belum pernah kemari."

Aku menatap sepupuku, terkejut, sembari kami mengeluarkan sandwich yang dibuatkan ibu Ben untuk bekal.

"Saat kami kecil, paman sering menceritakan cerita ini, untuk menakut nakuti kami. Aku selalu berpura pura berani, tapi sepertinya cerita cerita itu berhasil mempengaruhiku, karena setiap kami berperahu ke danau, aku akan meminta ayahku untuk tidak terlalu dekat ke sini."

"Cerita tentang apa?" tanyaku.

"Aku kira kita tidak bisa menyebutnya sebagai cerita hantu, bukan itu, tapi... cerita menyeramkan. Tentang anak anak yang tersesat di rawa akan terkena kutukan untuk hidup di sana selamanya, berubah bentuk menjadi sesuatu yang agak tak manusiawi. Paman bilang bahwa saat malam kau bisa mendengar mereka, dan jika kau tak waspada mereka akan memancingmu masuk ke rawa, dan kau akan jadi salah satu dari mereka, tersesat selamanya. Setiap kami mendengar bunyi aneh dari seberang danau, paman akan berkata 'Anak anak rawa sedang bermain.' Namun tentu saja, itu hanya suara rakun berkelahi."

Aku menghabiskan sandwichku, kecuali pinggiran rotinya, aku remas dan ku buang ke air. Aku mendongak ke sisi perahu, memperhatikan sisa sisa makan siangku tenggelam menembus bayanganku di permukaan air. Bayanganku menatap balik, hampir menutupi pandanganku, menyeringai saat aku semakin berusaha untuk melihat ke dasar danau.
"Menurutmu apa cerita cerita itu mungkin benar? Apakah memang ada anak anak yang tersesat di sini?"

"Mungkin saja," jawab Ben.
"Mungkin perahu karam tadi milik mereka. Tenggelam, seperti yang kau bilang tadi."
Aku masih menonton bayanganku menari di bawah gelombang air. Dia tersenyum lebar, menyeringai jahat, sepasang lengannya perlahan meraih ke atas, menggetarkan permukaan air yang tenang.
"Awas!" Ben memperingatkan, menyentakkanku ke atas. "Kau hampir tercebur!"
"Apa" jawabku tolol. "Aku lihat... lupakan saja."
Selesai makan, sepupuku memutar arah perahu, kami mulai mendayung pulang. Hembusan angin dingin membuat dedaunan di atas kami bergemerisik, dan Ben tampak cemas.
"Barusan itu angin sore," katanya. "Selalu berhembus setiap sebelum malam menjelang. Seharusnya kita sudah berada di danau terbuka sekarang."
Cekaman dingin membekap dadaku akan kesadaran bahwa kami tersesat.
Aku menengok kesana kemari, mencari semburat langit terbuka, tapi tak ada apapun di sana kecuali pepohonan tergenang air, terbelit oleh tumbuhan rambat dan lumut, di manapun aku melihat. Terdengar suara berdebam, mendadak perahu kami terhenti.

"Apa itu tadi?" tanyaku.

"Kita menabrak sesuatu." Ben mendorong dayung kebawah air. "Kelihatanya ini seperti batang pohon busuk. Ini tidak bagus. Ambilah." Dia menyerahkan dayung satunya.

"Bantu aku mendorong, untuk melepaskan perahu kita."


Aku mendorong dayungku ke bawah perahu, dan terasa dayungnya menusuk sesuatu yang lunak.
"Apa kau yakin ini batang pohon?" tanyaku. "Kok lembek begini."

"Harusnya begitu," sepupuku menjawab, mendorong maju mundur guna menggoyangkan perahu supaya terlepas. Mendadak, dengan hempasan cepat, kamipun terbebas. Gerakan dadakan itu membuatku kehilangan keseimbangan, dan aku merangkul ujung perahu, menghindarkanku dari jatuh ke air. Dalam kepanikanku, dayung di tanganku terlempar lalu tercebur ke air. Tanpa pikir panjang, aku berusaha meraihnya, mengaduk aduk ke bawah air dengan tanganku. Jari jariku sudah berhasil
menggenggam tangkai dayung yang agak licin oleh air rawa, lalu muncul tangan yang lain, berlendir dan bengkak, menangkap tanganku. Aku berteriak kaget, menarik tanganku dari air dan melonjak mundur menubruk sepupuku, yang kemudian memekik, terjengkal jatuh ke air. Aku menganga ketakutan, tapi sebelum aku sempat menarik nafas, kepala Ben muncul ke permukaan sambil meringis.


"Airnya terasa menjijikan. Kau harus lebih berhati hati."

"Maafkan aku." kataku sambil tersengal sengal. "Kamu tak apa apa?"

"Yeah. Ini tak terlalu dalam kok. Aku bisa berdiri."

Aku membantunya naik ke perahu, lalu dia duduk gemetaran.

"Aku benar benar minta maaf," kataku lagi. "Tadi saat aku mengambil dayungnya, ada sesuatu yang mencengkeramku."

"Mungkin cuma ikan. Lagian, Kita punya masalah yang lebih besar untuk di cemaskan. Sekarang hampir gelap."

Saat itu memang gelap. Langit yang tertutup pepohonan menambah kegelapan malam. Pemandangan rawa yang hijau dan kecoklatan berbaur menjadikan sekitar kami berwarna kelabu yang kelam.

"Sekarang gimana nih?" tanyaku.

"Mungkin kita tunggu saja di sini, aku rasa orang tua kita sekarang pasti sedang mencari di mana kita berada."

Kamipun menunggu. Tak lama pemandangan benar benar berubah gelap total. Cahaya bulan menembus pepohonan menghasilkan penerangan remang remang yang terpantul di permukaan air rawa, kami dikelilingi oleh keadaan gelap dan berkabut.

"Apa kau menciumnya?" sepupuku bersuara, bergidik dan gemetaran karena bajunya yang basah, meringkuk di sampingku.

Aku mengendus udaranya. Bau busuk tercium, awalnya samar, tapi semakin lama semakin kuat.
"Yeah. Menurutmu bau apa ini?"

"Kadang rawa rawa memang bau, aku rasa."

Di suatu tempat dalam kegelapan, daun daun berkerosak, di selingi suara kecipak air.
"Hewan hewan apa yang hidup di sini?" tanyaku, gagal menutupi ketakutan yang terdengar dari suaraku.

"Beruang, kijang. Tapi mereka tak akan berkeliaran di sini. Yang pasti mereka tak akan masuk ke air."
Terdengar suara kecipak air yang berulang dan berirama, semakin keras, seperti ada sesuatu yang berjalan di air dan mendekat ke arah kami.
"Mungkin hanya suara baling baling perahu dari danau jauh di luar sana." kata Ben.

"Memang siapa yang berperahu di danau jam segini?"

Suara kecipak itu berhenti beberapa kaki dari kami, walaupun begitu kami masih tak bisa melihat apa itu, dan lalu sesuatu menyenggol sisi perahu kami. Aku menjauh ke ujung sisi perahu, begitu juga Ben. Perahu kami jadi miring tajam ke satu sisi terberatkan oleh tubuh kami berdua. Senggolan demi senggolah berlanjut, lagi dan lagi, seperti ada yang meninju badan kapal, menghantam terus menerus. Mendadak, hantaman itu bertambah banyak mengarah di sisi perahu di mana kami berdua meringkuk ketakutan. Kami bergeser ke tengah tengah, sebisa mungkin menjauh dari pinggiran perahu yang di ombang ambingkan oleh semacam kekuatan dari tangan tangan yang tak terlihat. Goncangan itu terus bertambah, dan semakin banyak lagi, hingga kami merasa seperti terkepung.

Dan kemudian kami mendengar tawa. Dari sekeliling kami, seperti anak anak kecil yang jumlah nya tak terhitung tertawa mengejek kami. Cahaya terang tiba tiba bersinar silau di satu sisi dekat perahu, dan suara suara tawa itu secara perlahan menghilang.

Dalam cahaya oranye yang bergoyang goyang terang, kami dapat melihat keadaan sekitar. Permukaan air sama sekali tenang, seperti lapisan kaca yang hitam, dan kurang sepuluh kaki dari kami, terlihat tepian danau. Disana, diatas tanah, api berkobar terang.

"Kelihatannya hangat."

Aku memandang sepupuku, yang gemetar hebat dalam baju basahnya.
"Apa itu nyata?" kataku panik.

"Siapa perduli," jawab Ben, lalu meraih dayung dan mulai mendayung ke tepian. "Aku kedinginan!"
Perahu kami sampai ke tepi, dan sebelum aku dapat menghentikannya, sepupuku sudah melompat dan berlari cepat ke arah kobaran api. Di depan mataku, kusaksikan bayangannya mengabur, dan segera dia menghilang dalam kesilauan.

"Ben!" aku berteriak memanggil, aku masih ragu untuk mengejarnya.
"Ben!" Terdengar ada suara lain menjawab, bukan suara Ben, dari arah sebaliknya.

Pemandangan tiba tiba berubah gelap. Kobaran api itu menghilang bersamaan dengan terdengarnya suara lain itu. Muncul cahaya yang lebih kecil, menyorot ke atas dan kebawah dan semakin terang saat mendekat. Cahaya senter.

"Nak apa itu kau?"
"Ayah?"

"Nak, kau tak apa apa?, semuanya cemas sekali. Jadi kami pergi mencarimu."
"Tunggu dulu," aku memrotes saat ayah hendak menarikku ke perahunya,

"Bagaimana dengan Ben?"

"Tak apa apa," kata ayahku. "kami sudah menemukan dia."

"Apa?" balasku, menengok ke belakang ke tempat api aneh tadi berkobar dengan tampang bingung. "Ta- Tapi.."

"Ayah tahu," potong ayahku. "Tubuhnya mengapung terbalik. Begitu keadaan Ben saat kami menemukannya."

"Apa?" suatu tempat di dalam kepalaku memahami arti kata kata ayahku, tapi aku masih merasa itu tak mungkin terjadi. "Apa yang ayah bicarakan?"

"Ben terjatuh dari perahu, apa kau tidak ingat?"

"Iya, tapi..." aku menengok lagi ke arah tepi danau yang hanya beberapa menit lalu memunculkan nyala api misterius. "Dia tidak..."

"Ayo nak, kita segera kembali ke pondok."

Aku takkan pernah bisa melupakan pemandangan itu. Tubuh Ben terbaring kaku di atas meja dapur, matanya tertutup. Basah, dan kulitnya terlihat pucat kehijauan. Aku masih ingin menyangkalnya, tapi bagaimana bisa aku terus menyangkal jika mayatnya terbaring di hadapanku?

Aku tak punya penjelasan akan apa yang telah terjadi. Saat orang tua Ben menanyaiku, aku hanya berkata bahwa dia tercebur, lalu perahunya terseret arus dan hari semakin gelap. Itulah yang ingin mereka dengar. Dan itulah yang ku yakinkan pada diriku diriku sendiri berulang ulang kali, seperti yang sebagian diriku ingin percayai.

Aku ingin melupakan penjelajahan kami di rawa saat itu, termasuk semua pemandangan, suara suara dan perasaan aneh yang ku alami, tapi sampai hari ini aku masih tak bisa menyingkirkan hal hal itu dari kepalaku. Setiap kali aku pergi dekat ke kolam, atau danau, atau hutan yang lembab, aku bersumpah aku masih bisa mendengar suara tawa.

Tamat

0 comments:

Post a Comment

 
Top