Rural House Part 1

(Andieta Octaria)

CR=mengakubacpaker


Eric menatap Sonia yang duduk membisu di sebelahnya. Sudah berjam-jam Sonia hanya menatap pemandangan di sekitarnya dalam diam. Sonia memang pendiam, namun Eric tahu, ada yang berbeda dari sikap Sonia hari ini.

Semua ini karena lagu sialan itu! Eric memaki dalam hati. Semua baik-baik saja sebelum mereka mendengar lagu itu.

Beberapa hari yang lalu, saat menjemput Sonia pulang kantor, di tengah kemacetan ibu kota, radio memutarkan sebuah lagu yang asing di telinga Eric. Namun tanpa disangka-sangka, lagu itu membuat Sonia bertingkah aneh. Sonia membesarkan volume radio, lalu mulai menangis.

“Kamu tahu lagu ini?”

Sonia hanya mengangguk, tanpa bisa berhenti menangis. Sepanjang jalan, Sonia tak berhenti menangis hingga mereka sampai ke apartemen Sonia. Ia juga tak menjelaskan apapun kepada Eric. Sonia hanya menangis hingga air matanya habis dan matanya membengkak. Namun ia tak menjelaskan sedikitpun apa yang membuatnya menangis.

Eric tak mendengar kabar dari Sonia keesokan harinya, ataupun dua hari kemudian. Semua pesan dan teleponnya tak berbalas. Bahkan ia sudah menghampiri apartemen Sonia langsung. Namun gadis itu seakan menghilang, membuat Eric panik bukan main. Untungnya di hari ketiga, Sonia menghubunginya. Gadis itu meminta Eric untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Tanpa pikir panjang Eric mengiyakan. Maka di sinilah mereka sekarang, menyisakan Sonia yang diam seribu bahasa dan Eric yang pegal luar biasa karena menyetir non-stop berjam-jam.

Eric menatap gadis di sebelahnya. Sejujurnya, tak banyak yang ia ketahui tentang Sonia. Mereka baru kenal beberapa bulan, namun Eric langsung jatuh cinta saat mengenalnya. Sonia yang manis dan pintar. Sonia yang pendiam dan membuatnya terlihat misterius. Ia tak mengetahui mengapa Sonia menangis begitu hebat mendengar lagu itu. Bahkan hingga kini, ia tak mengetahui lagu apa itu. Ia baru menyadari, tak banyak yang ia ketahui tentang Sonia.

Akhirnya, mereka sampai di sebuah rumah mungil dengan cat putih. Sonia turun, lalu membuka gembok garasi, mempersilahkan mobil Eric masuk. Sonia lantas membuka kunci rumah, lalu duduk di ruang tamu. Eric mengikuti Sonia perlahan, menatap rumah yang kosong.

“Ric…”

“Ya?”

“Ada yang mau aku ceritakan.” Sonia menatap Eric lekat-lekat, memastikan pemuda di depannya mendengarkan, “Mungkin kamu belum tahu, aku yatim piatu. Saat aku berusia 12 tahun… keluargaku dibunuh. Saat itu aku sedang mengikuti perkemahan. Semuanya begitu tiba-tiba. Begitu tidak terduga. Saat aku pulang, hanya rumah ini yang tersisa.”

“Kami dulu memiliki pembantu. Arina. Ia masih muda. Bahkan aku masih bisa mengingatnya. Tubuhnya kurus, rambutnya keriting besar-besar. Ia beberapa kali meminjam uang pada papa. Aku tak pernah tahu berapa jumlahnya. Aku juga tak tahu berapa jumlah uang yang dipinjamnya. Namun suatu hari, saat papa menagih uang itu, tiba-tiba ia mengamuk.”

“Ia membunuh papa dan ibu. Ia lalu membunuh kakak dan adik ku yang baru pulang sekolah. Aku tidak pernah mengetahui dengan pasti mengapa. Aku juga tak pernah mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi hari itu. Namun saat aku pulang dari berkemah, tak ada yang membukakan pintu. Saat aku masuk ke dalam rumah, yang aku lihat keluargaku lengkap. Hanya saja mereka tak lagi bisa menyapaku.”

“Arina ditangkap tak lama kemudian. Yang kudengar, ia dihukum mati. Namun aku tak pernah tahu. Aku masih terlalu kecil saat itu.” Sonia menutup ceritanya. Tak ada emosi dalam suaranya. Bahkan ia terdengar datar. Seakan menceritakan cerita dari buku yang pernah ia baca, bukan kisah hidupnya.

Eric menelan ludah, tak tahu harus mengatakan apa. Ia menggenggam tangan Sonia, berusaha memahami gadis itu. Berusaha menguatkan. Sungguh, ia ingin hadir di masa lalu Sonia, memeluk Sonia kecil yang kehilangan keluarga. Hadir di saat terberat Sonia. Andai ia bisa memutar waktu. Andai ia tahu.

Diam-diam ia ingin Sonia menangis, atau melakukan apapun, agar ia dapat menenangkan gadis itu. Namun Sonia hanya duduk diam sambil menatapnya. Ia tak dapat menebak apa yang sedang di pikirkan oleh gadis itu. Ia ingin memahami Sonia, namun gadis itu tak memberikan celah untuknya. Mereka berdua terdiam.

“Maaf membawamu jauh-jauh ke tempat ini. Setelah kematian keluargaku, aku tinggal bersama nenek dan meninggalkan rumah ini. Seharusnya rumah ini tidak terurus. Namun dulu papa merupakan salah satu orang yang terpandang di desa ini. Aku dengar, warga tetap merawat rumah ini untuk menghormati mendiang papa.”

“Awalnya aku hanya ingin melihat tempat ini. Namun hari ini cukup melelahkan. Bagaimana bila kita menginap? Aku tidak ingin memaksa kamu untuk menyetir berjam-jam kembali ke Jakarta. Lagipula besok hari Sabtu. Kita bisa pulang pagi-pagi sekali bila kamu mau.”

Eric menyetujui ide itu. Badannya kaku setelah menyetir berjam-jam. Lagipula, mungkin menginap di rumah lamanya akan membuat Sonia kembali ceria. Sungguh, ia akan melakukan apapun untuk membuat Sonia bahagia. Sonia mengajaknya berkeliling rumah.

Rumah itu kecil. Hanya terdiri dari dua kamar dan satu kamar pembantu di bagian luar. Perabotan di rumah itu masih lengkap, meskipun hanya tinggal sedikit. Seluruh bagian rumah di cat putih, seakan diguyur cat. Dinding, pintu, jendela hingga kusen semua berwarna putih polos. Dapur rumah kosong melompong, tanpa kompor ataupun perabotan. Sementara ruang tamu hanya diisi sebuah sofa kumal.

Sonia lantas menunjukkan Eric kamar tidur. Kamar tidur utama hanya diisi tempat tidur dan sebuah meja rias kecil, sementara kamar tidur lainnya hanya berisi sebuah kasur. Eric mempersilahkan Sonia untuk tidur di kamar utama sementara ia tidur di kamar sisanya. Eric selalu membawa selimut di dalam mobilnya, maka ia menurunkan selimut dari mobil dan memberikannya pada Sonia.

Sonia tersenyum, senyum pertama yang ia lihat hari ini. Eric merasa bebannya berkurang setengah saat melihat Sonia tersenyum.

“Terimakasih Eric, selamat malam.”

Eric tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar.

Di dalam kamar, diam-diam, Eric mengamati layar handphone-nya. Ia tak dapat menahan rasa ingin tahunya. Ia mengetahui nama keluarga Sonia, maka diam-diam, ia memasukkan nama keluarga Sonia dalam google. Hanya membutuhkan waktu sepersekian detik hingga pencariannya membuahkan hasil.

Eric terpekik terkejut, perutnya bergejolak menahan mual, tak menyangka akan informasi yang ia dapatkan.



0 comments:

Post a Comment

 
Top