Dead Eyes See No Future


Cr : Gery FG



Seseorang pernah berkata padaku bahwa apa yang berada di masa depan biarlah menjadi sebuah misteri, tapi diriku tetap menyimpan rasa penasaran dengan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Terkadang aku suka sekali membaca kisah para manusia yang memiliki kemampuan melihat masa depan seperti Nostradamus atau Peter Hurkos dan aku suka membayangkan kalau aku juga memiliki kemampuan seperti mereka.

Hari itu aku sedang berada di perpustakaan kampus untuk mencari buku yang mungkin bisa menjelaskan tentang apa yang menjadi obsesiku selama ini tapi aku tak menemukannya. Aku merasa sedikit kecewa lalu memutuskan pergi ke kantin yang berada di lantai bawah. Saat sedang menuruni anak tangga, aku mendadak terpeleset sesuatu lalu terjatuh hingga kepalaku terantuk lantai dan aku tak sadarkan diri.

Saat aku tersadar, aku telah berada di sebuah ruangan rumah sakit dengan sebuah perban membalut kepalaku yang masih terasa pusing akibat menghantam lantai tadi. 



"Rain, kau sudah sadar ternyata," sebuah suara yang kukenali membuatku sedikit kaget, aku menoleh dan kulihat Fina sahabatku sudah berdiri di samping ranjangku. "Ah, kau sudah disini rupanya. Aku baik-baik saja tapi kepalaku masih terasa sakit," jawabku sambil memegangi kepalaku. Dia lalu duduk dan memegang bahuku,"Istirahat saja dulu, aku lega saat mengetahui kau baik-baik saja," kata Fina sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumannya saat tiba-tiba pintu kamar terbuka dan kulihat seorang dokter masuk bersama dengan seorang perawat. "Ah, Nona Dewi Intan, anda sudah sadar rupanya, maaf boleh saya memeriksa anda sebentar?" tanya dokter itu dengan ramah. Aku hanya mengangguk sambil berkata. "Panggil saja aku Rain, Dokter," lalu kubiarkan dokter melakukan tugasnya. 



Setelah selesai memeriksa dia hanya berkata kalau aku sudah bisa pulang besok, dan saat dia mengatakannya, aku melihat sesuatu yang aneh pada diri dokter tersebut. Aku melihat dadanya berdarah, seperti ada sebuah lubang yang membuat darah itu keluar dan saat aku menatap matanya, aku melihat sesuatu yang bahkan sangat mustahil untuk dipercaya, aku seperti melihat dokter itu bertemu dengan seorang pria dan pria itu langsung menembak sang dokter tepat di dadanya dan aku amat yakin itu akan terjadi. 



Aku langsung menjerit dan berkata pada sang dokter. "Dokter, anda akan dibunuh! Tolong selamatkan diri anda!" Dokter nampak terkejut mendengar perkataanku dan kulihat luka di dadanya sudah tak ada lagi. "Maaf Nona, apa maksudmu? Mungkin memang ada seseorang yang membenciku, namun kurasa tak mungkin dia akan membunuhku jadi kurasa sebaiknya anda istirahat saja." Dokter itu berkata dengan nada tenang namun aku dapat melihat sebuah kekhawatiran di wajahnya. 



Saat dokter itu sudah pergi, Fina segera bertanya padaku. "Kau kenapa menjadi histeris seperti itu, ada apa?" berusaha menenangkan diriku lalu menjawab. "Aku melihat dokter itu mati, dan semuanya terasa begitu nyata, aku serius." Fina berusaha menenangkanku dan tiba-tiba kudengar suara letusan yang diikuti oleh teriakan dari belasan orang dari luar. Fina segera berlari keluar untuk mengetahui apa yang terjadi, dan saat dia kembali, wajahnya nampak pucat pasi. "Dokter itu baru saja ditembak seseorang di ruang kerjanya, dan dia... tewas." Dia berkata tanpa berani menatapku. 



Dan begitulah yang terjadi di hari-hari setelahnya, aku sering sekali mendapat penglihatan tentang kematian orang-orang yang berada di dekatku, baik yang aku kenal maupun tidak, seperti seorang pria di halte bus yang saat aku melihatnya, tubuhnya nampak berlumuran darah dan ternyata beberapa menit selanjutnya dia tewas tertabrak sebuah mobil. Kurasakan aku makin lama makin merasa kesepian karena teman-temanku mulai menjauhi diriku karena tak ingin kalau aku melihat kematian mereka dan bahkan Fina yang adalah sahabat baikku pun juga melakukan hal yang sama padaku.



Malam itu, aku hanya merenungi apa yang terjadi padaku, mungkin dahulu aku pernah memiliki keinginan untuk melihat masa depan tapi tidak seperti ini, mengapa aku hanya melihat kematian dan bukan yang lain? Apakah ini sebuah kutukan? Aku merebahkan diriku ke kasur dan teringat perkataan seseorang bahwa masa depan biarlah menjadi sebuah misteri, dan kini aku menyesali apa yang telah terjadi padaku. 



Aku mencoba memejamkan mataku dan saat itu pula aku melihat kilasan sebuah kejadian yang amat mengerikan. Aku melihat api dimana-mana dan suara teriakan dari seseorang yang amat kukenal yaitu Fina, dan kini aku melihat dirinya berlari lalu jatuh terkapar di tanah dengan api yang berkobar di sekujur tubuhnya. "Fina! Tidak...!" aku berteriak saat menyadari bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. 



Segera kusambar ponselku dan kuhubungi dia, setelah menunggu beberapa menit barulah dia menjawab teleponku. "Rain? Ada apa meneleponku malam-malam? Kuharap kau tak akan memberitahu soal kematianku." jawab Fina di telepon dengan ketus. "Fina, dengarkan aku! Cepat pergi keluar, kumohon dengarkan aku sekali ini saja," aku hampir menangis saat mengatakannya. "Sial, aku benci kau Rain..! Aku benar-be..." panggilan telepon mendadak terputus dan itu membuatku makin panik. 



Aku segera mengambil kunci motorku dan segera melaju menuju rumah Fina. Sesampainya disana kusadari aku sudah terlambat, rumah Fina kini berubah menjadi kobaran api yang besar dan beberapa petugas pemadam kebakaran dibantu beberapa orang penduduk nampak sibuk berusaha memadamkannya. 



Tiba-tiba saja aku mendengar sebuah jeritan dan melihat ada sosok berapi menerobos keluar dari rumah yang terbakar itu dan berlari menujukearahku lalu langsung ambruk beberapa meter didepanku. Walaupun sosok hangus itu sudah tak dapat dikenali lagi, aku tahu siapa dia. Aku hanya bisa menangis dan menjerit saat mengetahui sahabatku telah meninggal saat itu juga, sementara beberapa orang berusaha menenangkanku. 



Peristiwa itu ternyata cukup mampu mengguncang jiwaku dan beberapa hari setelahnya, waktuku hanya kuhabiskan di kamar, meringkuk ketakutan dan berharap aku tak mendapat penglihatan lagi. Pada malam harinya, saat aku hendak ke kamar mandi untuk buang air kecil, aku mendadak mencium sesuatu yang baunya seperti sesuatu yang terbakar dan bau itu makin menyengat saat aku keluar dari kamar mandi. "Rain... kami kembali untukmu," sebuah suara yang kukenali menyapaku dan bulu kudukku langsung berdiri. 



Aku menoleh ke arah suara itu dan kulihat ada sosok hitam berdiri disana. "Kami membencimu Rain, kami tak pernah ingin mengetahui kapan ajal menjemput, tapi kau justru memberitahukannya pada kami, dan itu membuat kami tidak tenang." Sosok itu kembali berbicara padaku dan kini dengan jelas kulihat sosok itu tak sendirian disana, ada belasan sosok lain disana dan saat ada kilatan petir yang menyambar, aku dapat melihatwajah mereka dengan jelas, Fina yang tubuhnya hangus terbakar berdiri disana bersama orang-orang yang dulu mati setelah aku mendapatkan penglihatan tentang kematian mereka lalu memberitahukannya pada mereka.



Aku yang mulai merasakan diriku dicekam rasa ketakutan segera melangkah mundur sambil berkata. "A-apa yang kalian inginkan? Menjauhlah dariku!" tapi mereka semua melangkah maju mendekati diriku." Kami akan mengejarmu sampai kau berhenti melihat apa yang seharusnya tak kau lihat." sosok lain dibelakang yang kini berkata, dan aku mengenali sosok itu, dia sang dokter. Aku terjerembab ke lantai karena tersandung kursi lalu secepat mungkin bangkit dan berlari menjauhi mereka. "Pergi dariku...! Pergi...!" teriakku pada mereka. 



Aku berlari menuju kamarku dan aku menjumpai sosok Fina sudah menungguku disana. "Kami tak akan melepaskanmu Rain." dia berkata dengan nada datar dan saat dia mengatakannya, kulihat jelas kulit wajahnya yang hangus nampak retak dan berdarah. 



Aku menjerit keras dan berlari keluar rumah dan saat aku berlari menyeberang jalan, sebuah mobil yang melaju kencang langsung menghantamku, sempat kurasakan sakit yang amat sangat disekujur tubuhku namun itu berlangsung amat singkat. Selanjutnya, semuanya menjadi hitam dan aku tak ingat apa-apa lagi. Saat aku membuka mataku, kusadari kini aku telah berada di rumah sakit dan tubuhku terasa amat lemas seakan aku telah tertidur dalam waktu yang cukup lama. 



Aku segera bangun dan duduk di ranjang sambil mengamati sekeliling ruangan dan kudapati tak ada seorangpun disana, apakah orang tuaku masih menganggap bisnis mereka lebih penting daripada menjenguk putri mereka di rumah sakit... ah sudahlah. Pintu ruangan terbuka dan seorang dokter masuk. "Ah, akhirnya anda tersadar juga setelah anda koma selama enam bulan," katanya lega. Enam bulan? Jadi sudah selama itu aku berbaring disini. "Apakah ada yang menjengukku selama itu?" tanyaku tanpa menoleh. Dokter itu tampak tertunduk lalu menggeleng. "Hanya beberapa tetangga anda yang berkunjung, kami telah menghubungi orang tua anda di luar negeri namun mereka tak pernah menjawab panggilan telepon dari kami." jawab dokter itu. 



Dia lalu memeriksa keadaanku sambil menyarankanku untuk beristirahat, dia juga memberitahuku bahwa aku sempat mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhku namun beruntung kepalaku luput dari benturan saat itu. Aku hanya menghela nafas panjang kemudian kembali merebahkan diriku di kasur untuk kembali tidur.



Pada malam harinya aku terjaga dari tidurku karena merasa ingin buang air kecil dan segera keluar menuju toilet. Setelah selesai, aku segera mencuci muka di sebuah tempat cuci tangan dimana ada sebuah cermin diatasnya, dan saat aku menatap bayanganku di cermin, aku melihat bayanganku yang terpantul di cermin terlihat amat mengerikan, kulihat kedua bola matanya telah hancur dan darah mengalir deras dari kedua rongganya. 



Perutku langsung terasa diaduk-aduk pada saat itu dan aku langsung memuntahkan seluruh isi perutku yang hanyalah berupa cairan bening yang rasanya amat pahit. Setelah selesai muntah, aku kembali melihat kearah cermin dan kudapatibahwa bayanganku kini menghilang seakan aku tak memiliki bayangan. 



"Nampaknya kau kini melihat masa depanmu sendiri Rain." sebuah suara yang amat kuingat membuatku terlonjak kaget dan kini aku melihat Fina dengan tubuh hangusnya berdiri di belakangku dengan wajah menyeringai penuh darah. Dia melangkah maju sambil mengangkat sebelah tangannya seakan hendak mencekikku. "Pergi kau...! Kau sudah mati!" Aku berteriak lalu berlari keluar. 



Teriakanku nampaknya membuat dua orang penjaga kaget. "Hei Nona, ada apa? Mengapa berteriak?" tanya salah satu dari mereka. Aku tak menjawab pertanyaan mereka dan terus berlari dari Fina yang berjalan menuju ke arahku sambil melewati kedua penjaga yang nampaknya tak melihat sosok Fina. 



Aku berlari di koridor rumah sakit dan tak sengaja menabrak seorang perawat yang sedang membawa peralatan bedah dan saat kulihat sebuah gunting terjatuh, aku langsung memungutnya,"Hei...hei, letakkan itu Nona." Perawat itu berusaha menenangkanku dan kulihat Fina semakin mendekat. "Tidak, menjauhlah dariku...!" teriakku sambil berlari menuju ke lantai atas. Sesampainya di atap, kulihat Fina dan belasan sosok lainnya yang pernahkulihat di rumah telah menungguku disana. "Kami menanti kematianmu Rain, mata orang mati tak akan mampu melihat masa depan." kata mereka pelan. Aku benar-benar tak tahan dengan kemampuan, atau kutukan yang kumiliki saat ini, aku benar-benar tak ingin melihat yang seharusnya tak kulihat lagi. 



"Hei Nona, jatuhkan gunting itu...!" nampak kedua penjaga serta perawat yang tadi kutemui mengejarku sampai ke atap. "Aku tak ingin melihat mereka lagi, pergi...!" aku berteriak pada mereka dan langsung menghunjamkan gunting itu ke kedua bola mataku secara bergantian dan semuanya mendadak gelap bersamaan dengan datangnya rasa sakit dan perih yang amat sangat di kedua rongga mataku dan kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir deras di wajahku. "Ya Tuhan, astaga! Apa yang kau lakukan nona!" aku mendengar salah seorang penjaga berteriak penuh kengerian. "Hei awas! Gadis itu akan terjatuh!" teriakan dari si perawat yang kini kudengar. 



Aku yang tak mampu lagi menahan rasa sakit yang menghunjam di kedua mataku langsung kehilangan keseimbangan dan ambruk ke arah belakang namun aku tak merasakan tubuhku mendarat di lantai melainkan merasakan tubuhku diterpa oleh sebuah angin kuat yang berhembus dari arah bawah dan aku masih sempat mendengar teriakan dari kedua penjaga dan perawat tadi perlahan menjauh, "Orang mati tak melihat masa depan," sebuah bisikan terdengar di telingaku sesaat sebelum aku merasakan sesuatu yang keras menghantam kepala dan tubuhku dengan amat kuat dan aku tak merasakan apa-apa lagi untuk selama-lamanya.



Tamat



0 comments:

Post a Comment

 
Top