You Never Call, You Never Write..

David membuka lipatan surat itu dengan seksama, berusaha agar tidak merusaknya. Ya Tuhan, kenapa wanita itu harus terus mengusiknya? kenapa...


"Putraku tersayang, bagaimana kabarmu? Ibu tak pernah lagi melihatmu. Apa kamu sudah menerima surat-surat ibu? Ibu tak pernah mendengar kabar tentangmu. Tak seorangpun berbicara dengan ibu di tempat ini..."

bla bla bla, dasar tua bangka. Kenapa dia tak mati saja?

"Ibu sangat kelaparan di sini. Ibu tak yakin para petugas mengantarkan jatah makan ibu seperti yang seharusnya, tapi kau tahu sendiri kan kalau ibu ini sangat pikun... mungkin sebenarnya ibu sudah makan, tapi ibu lupa."

Huh,pikun? Picik, lebih tepatnya.


Apa dia tidak ingat, betapa dulu waktu masih muda dia adalah sosok ibu yang sangat buruk, sering gonta-ganti pasangan, suka kelayaban, mabuk-mabukan, dan hanya Tuhan yang tahu entah apa lagi kelakuannya di luar sana, meninggalkan David kecil terkurung sendirian di rumah...

Saat itu tak ada cukup makanan untuk dimakan, mungkin sebungkus kentang goreng, atau sekedar happy meal, itu pun jika otak teler ibunya sempat mengingat bahwa ia punya anak yang harus di beri makan. Namun kini ibunyalah pesakitan yang gantian terkurung, menghabiskan waktu menanti seseorang yang mungkin ingat-mungkin tidak untuk memberinya makan, atau untuk membersihkan kamarnya.

Ia terlalu picik untuk mengingat bahwa sebenarnya ia berada di kamar rumahnya sendiri, dan bukan di panti jompo. Terlalu picik untuk menyadari bahwa ia akan dibiarkan mati kelaparan secara perlahan...


David melipat kembali surat itu, kemudian memasukannya kedalam amplop dan dengan hati-hati merekatkan lagi penutup suratnya seperti semula. Ia mengambil pulpen lalu ditulisnya, 'ALAMAT TAK DIKETAHUI--SURAT DIKEMBALIKAN PADA PENGIRIM', di salah satu sisi amplop, kemudian David selipkan surat itu ke bawah celah pintu kamar ibunya yang dikunci rapat.



0 comments:

Post a Comment

 
Top